TEMA: “BERANIKAH KITA BERKATA: UJILAH AKU, TUHAN?”

dmsd1 Avatar

KHOTBAH MINGGU, 16 AGUSTUS 2026

Pdt. Illen Leatemia, S.Th.

TEMA: “BERANIKAH KITA BERKATA: UJILAH AKU, TUHAN?”

Nas Alkitab

Yeremia 29:7
“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

Mazmur 139:23-24
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”


JEMAAT TUHAN YESUS KRISTUS YANG DIBERKATI,

Hari ini kita diajak merenungkan sebuah doa yang sangat dalam, sangat jujur, dan sangat transparan yang dinaikkan Daud kepada Tuhan:

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.”

Perhatikan baik-baik doa Daud ini.

Daud tidak berkata, “Tuhan, berkatilah aku.”
Daud tidak berkata, “Tuhan, mudahkanlah jalanku.”
Daud tidak berkata, “Tuhan, jauhkan semua masalah dari hidupku.”

Tetapi Daud berkata:

“Tuhan, ujilah aku!”

Pertanyaannya bagi kita hari ini:

BERANIKAH KITA BERDOA SEPERTI DAUD?

Beranikah kita berkata kepada Tuhan:

“Tuhan, selidiki saya. Bongkar hati saya. Uji pikiran saya. Periksa motivasi saya. Kalau ada yang salah dalam hidup saya, tunjukkan kepada saya dan ubahlah saya.”

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Kata “selidikilah” dalam bahasa Ibrani berasal dari kata haqar, yang memiliki arti menyelidiki, menggali, memeriksa sampai ke bagian yang paling dalam.

Sedangkan kata “ujilah” berkaitan dengan kata bahan, yang menggambarkan proses menguji atau memurnikan seperti menguji logam.

Artinya, Daud meminta Tuhan bukan sekadar melihat bagian luar kehidupannya, tetapi menggali sampai ke bagian terdalam dari hatinya.

Daud berkata seakan-akan:

“Tuhan, kalau ada sesuatu yang tersembunyi dalam diri saya, bongkarlah. Kalau ada motivasi yang salah, tunjukkan. Kalau ada kesombongan, bersihkan. Kalau ada dosa yang saya sembunyikan, nyatakan. Kalau ada jalan yang salah, tuntun saya kembali.”

Ini doa yang tidak mudah!

Karena sering kali kita lebih suka Tuhan memberkati kita daripada mengoreksi kita.

Kita sering mengatakan:

“Beta ni so paling bae su!”

Kita merasa diri kita sudah baik. Kita merasa pelayanan kita sudah baik. Kita merasa hati kita sudah benar.

Tetapi persoalannya adalah:

Belum tentu apa yang kita anggap baik, baik juga di hadapan Tuhan.

Kita bisa menilai diri kita sendiri dengan sangat baik, tetapi hanya Tuhan yang mengetahui isi hati kita secara sempurna.

Karena itu, jangan kita memanipulasi hati kita di hadapan Tuhan.


1. UJIAN TUHAN BUKAN KUTUK, TETAPI KESEMPATAN EMAS

Jemaat yang diberkati Tuhan,

Kita harus mengubah cara pandang kita terhadap ujian.

Ujian bukan selalu berarti Tuhan sedang menghukum kita.

Kadang-kadang ujian justru merupakan proses Tuhan untuk membentuk kita.

Tuhan tidak menguji untuk menghancurkan kita.

Tuhan menguji untuk memurnikan kita.

Tuhan tidak menguji karena Dia membenci kita.

Tuhan menguji karena Dia mengasihi kita.

Wahyu 3:19 berkata:

“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”

Tuhan adalah Bapa yang mengasihi anak-anak-Nya.

Kadang-kadang kasih Tuhan hadir dalam bentuk berkat.

Tetapi kadang-kadang kasih Tuhan hadir dalam bentuk teguran, proses, koreksi dan ujian.

Jemaat Tuhan,

Emas tidak pernah menjadi emas murni tanpa melewati api.

Demikian juga iman kita.

1 Petrus 1:6-7 mengingatkan bahwa iman kita yang diuji memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada emas yang fana.

Jadi jangan selalu bertanya:

“Tuhan, mengapa saya diuji?”

Tetapi belajar bertanya:

“Tuhan, apa yang sedang Engkau bentuk dalam diri saya melalui ujian ini?”

Karena bisa jadi Tuhan sedang menaikkan level iman kita.


2. “UJILAH AKU” ADALAH DOA SEORANG PEJUANG IMAN

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Doa “Ujilah aku” bukanlah doa orang yang manja.

Ini adalah doa seorang pejuang iman.

Mengapa?

Karena Daud tahu siapa yang mengujinya.

Daud mengenal Tuhan secara pribadi.

Daud memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan.

Karena itu Daud berani berkata:

“Tuhan, bongkar saya!”

“Tuhan, kalau masih ada niat yang salah, bersihkan saya!”

“Kalau masih ada motivasi yang tidak benar, tunjukkan kepada saya!”

Daud sadar bahwa manusia sangat lihai memanipulasi motivasi hatinya sendiri.

Kadang-kadang kita melakukan sesuatu yang salah tetapi kita punya seribu alasan untuk membenarkannya.

Kita bisa berkata:

“Beta seng salah.”

“Beta cuma membela diri.”

“Beta cuma marah karena dia yang mulai.”

“Beta melakukan ini demi pelayanan.”

Tetapi Tuhan melihat lebih dalam daripada alasan kita.

Daud sendiri pernah jatuh dalam dosa ketika berhadapan dengan Batsyeba dan Uria.

Karena itu Daud tahu:

Saya bisa jatuh kapan saja kalau saya tidak menjaga hati saya di hadapan Tuhan.

Maka Daud meminta Tuhan melakukan semacam audit rohani atas kehidupannya.

Jemaat,

Kita sering berbicara tentang audit keuangan.

Tetapi hari ini saya mau bertanya:

Kapan terakhir kali kita meminta Tuhan mengaudit hati kita?

Bukan hanya:

  • audit uang kita,
  • audit pekerjaan kita,
  • audit pelayanan kita,

tetapi juga:

audit hati kita, audit pikiran kita, audit motivasi kita, dan audit kehidupan rohani kita.


3. UJIAN MENYINGKAPKAN ARAH HIDUP KITA

Mazmur 139:24 berkata:

“Lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.”

Perhatikan doa Daud.

Dia tidak hanya meminta Tuhan memeriksa dirinya.

Dia juga meminta Tuhan menunjukkan arah jalannya.

Karena banyak orang berjalan di jalan yang salah tetapi tidak sadar bahwa dirinya sedang salah jalan.

Mengapa?

Karena mereka tidak pernah meminta Tuhan memeriksa jalan hidup mereka.

Ujian sering kali menjadi seperti rambu-rambu dari Tuhan.

Tuhan berkata:

“Eh, kamu sudah salah arah.”

“Itu bukan kehendak-Ku.”

“Kembali!”

Jemaat Tuhan,

Lebih baik ditegur Tuhan sekarang daripada tersesat selamanya.

Lebih baik Tuhan memperbaiki kita sekarang daripada kita terus berjalan dalam kesalahan sampai akhirnya kehilangan arah hidup.

Ada sebuah lagu yang berkata:

“Di jalanku, ku diiring oleh Yesus Tuhanku. Apakah yang kurang lagi jika Dia panduku?”

Kalau Yesus menjadi penuntun hidup kita, kita tidak perlu takut ketika Tuhan memperbaiki arah hidup kita.

Daud tidak hanya mencari kenyamanan sementara.

Daud ingin memastikan bahwa pada akhirnya dia tetap berada:

“di jalan yang kekal.”


4. HANYA ORANG YANG DEKAT DENGAN TUHAN YANG BERANI DIUJI

Jemaat yang diberkati Tuhan,

Daud berani berkata:

“Ujilah aku, Tuhan!”

Mengapa?

Karena Daud mengenal Tuhan.

Daud tahu bahwa Tuhan yang menguji adalah Tuhan yang penuh kasih.

Amsal 16:4 berkata:

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing.”

Artinya, ada tujuan Tuhan dalam setiap proses yang kita alami.

Kalau kita dekat dengan Tuhan, kita akan mengerti satu hal:

Ketika Tuhan menguji kita, Tuhan tidak meninggalkan kita.

Tuhan yang menguji, Tuhan juga yang mengangkat.

Tuhan yang mengizinkan kita masuk dalam proses, Tuhan juga yang memberikan kekuatan untuk melewatinya.

Karena itu:

BUKAN UJIAN YANG HARUS KITA TAKUTI, TETAPI KETERPISAHAN DARI TUHAN YANG HARUS KITA TAKUTI.

Mazmur 62:2 berkata:

“Hanya dekat Allah saja aku tenang.”

Jemaat,

Selama kita dekat dengan Tuhan, kita memiliki tempat untuk kembali.

Bayangkan sebuah ranting yang terpisah dari pokoknya.

Awalnya mungkin masih terlihat hijau.

Tetapi lama-kelamaan ranting itu kehilangan sumber kehidupannya.

Akhirnya menjadi kering dan mati.

Begitu juga dengan kehidupan kita.

Kita bisa kehilangan banyak hal dan masih bertahan.

Tetapi ketika kita kehilangan hubungan dengan Tuhan, kita kehilangan sumber kehidupan yang sesungguhnya.

Karena itu, jangan takut ketika Tuhan menguji.

Yang harus kita jaga adalah:

Jangan sampai dalam proses ujian kita justru menjauh dari Tuhan.


JEMAAT TUHAN YANG DIKASIHI,

Ada satu cerita sederhana yang sangat menarik.

Ada seorang jemaat yang paling takut menyanyikan lagu:

“UJILAH AKU, TUHAN.”

Saya bertanya:

“Kenapa kamu tidak mau menyanyi lagu ini?”

Dia menjawab:

“Ibu, masalah tidak diundang saja datang sendiri, apalagi diundang.”

Jemaat tertawa.

Tetapi di balik perkataan itu ada sebuah kebenaran.

Kita semua suka diberkati.

Tetapi tidak semua orang mau dibentuk.

Kita semua mau menjadi emas.

Tetapi tidak semua orang mau masuk ke dalam tungku api.

Kita mau hasilnya, tetapi sering tidak mau prosesnya.

Kita mau mahkota, tetapi tidak mau proses pembentukannya.

Kita mau menjadi kuat, tetapi tidak mau melewati latihan.

Kita mau iman yang besar, tetapi tidak mau melewati proses yang membangun iman.

Karena itu hari ini Tuhan bertanya:

“BERANIKAH ENGKAU BERKATA: UJILAH AKU, TUHAN?”

Bukan sekadar menyanyikan lagu itu.

Tetapi berani menjalani maknanya.

Berani berkata:

“Tuhan, periksa saya.”

“Tuhan, koreksi saya.”

“Tuhan, kalau ada yang salah, ubahlah saya.”

“Tuhan, kalau hati saya mulai menyimpang, kembalikan saya.”

“Tuhan, jangan biarkan saya merasa benar padahal saya sedang jauh dari kehendak-Mu.”


PENUTUP: UJIAN TIDAK MENYENANGKAN, TETAPI HASILNYA LUAR BIASA

Jemaat yang diberkati Tuhan,

Mari kita ingat baik-baik:

Ujian tidak menyenangkan, tetapi hasilnya luar biasa.

Ujian tidak selalu mudah, tetapi ujian dapat membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat.

Ujian tidak mematikan, tetapi justru dapat melahirkan sesuatu yang baru dalam hidup kita.

Ujian tidak mempermalukan kita, tetapi dapat menjadi sarana untuk memuliakan Allah melalui hidup kita.

Karena itu, hari ini jangan hanya berdoa:

“Tuhan, berkatilah saya.”

Tetapi beranilah berdoa:

“Tuhan, ujilah saya.”

Jangan hanya berkata:

“Tuhan, mudahkan jalanku.”

Tetapi katakan:

“Tuhan, kalau jalanku salah, luruskanlah.”

Jangan hanya berkata:

“Tuhan, berikan apa yang saya mau.”

Tetapi katakan:

“Tuhan, bentuklah saya menjadi seperti yang Engkau mau.”

Dan akhirnya, mari kita kembali kepada doa Daud:

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.”

Jemaat Tuhan,

Hari ini Tuhan tidak mencari orang yang merasa dirinya sempurna.

Tuhan mencari orang yang bersedia dibentuk.

Tuhan tidak mencari orang yang berkata:

“Saya sudah baik.”

Tetapi orang yang berkata:

“Tuhan, saya masih membutuhkan Engkau. Selidiki saya. Uji saya. Bentuk saya. Bersihkan saya. Dan tuntun saya di jalan yang kekal.”

Maka pertanyaannya bukan lagi:

“Apakah saya siap menerima berkat Tuhan?”

Tetapi:

“APAKAH SAYA BERANI MENYERAHKAN HATI SAYA UNTUK DIUJI DAN DIBENTUK OLEH TUHAN?”

Kiranya kita semua memiliki keberanian seperti Daud untuk berkata:

“UJILAH AKU, TUHAN!”

Dan ketika Tuhan menguji kita, kiranya kita tetap dekat kepada-Nya.

Sebab Tuhan yang menguji adalah Tuhan yang mengasihi.

Tuhan yang membentuk adalah Tuhan yang menyertai.

Tuhan yang mengizinkan kita masuk dalam proses adalah Tuhan yang juga akan membawa kita keluar sebagai pribadi yang lebih murni, lebih kuat dan lebih serupa dengan Kristus.

Amin. Tuhan Yesus memberkati.

Enjoying this article?

Subscribe to get new posts delivered straight to your inbox. No spam, unsubscribe anytime.

No spam. Unsubscribe anytime.

Kabar Lainnya

Semua Info

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *