HARUS KUAT DI MASA SUKAR SAAT INI”

dmsd1 Avatar

KHOTBAH MINGGU

“HARUS KUAT DI MASA SUKAR SAAT INI”

Nas: Mazmur 63:1–12
Pelayan Firman: Ps. Ilen Leatemia, S.Th.
Minggu, 6 September 2026


Shalom!

Bapak/Ibu, saudara-saudara yang mengagumi Tuhan,

Ada satu kenyataan yang harus kita sadari bahwa kita sedang hidup di zaman yang tidak mudah.

Dunia sedang mengalami begitu banyak perubahan. Ketidakpastian terjadi di berbagai bidang kehidupan. Ada persoalan ekonomi, bencana alam, konflik, tekanan hidup, persoalan keluarga, persoalan pekerjaan, bahkan persoalan iman.

Dan yang lebih terserap, di akhir-akhir ini banyak anak Tuhan, bahkan hamba-hamba Tuhan, yang tumbang sebelum masuk garis finish.

Ada yang awalnya kuat, tapi kemudian menyerah.

Ada yang awalnya sungguh-sungguh melayani Tuhan, namun kemudian kecewa.

Ada yang awalnya rajin berdoa, namun karena persoalan yang datang bertubi-tubi, akhirnya berhenti berdoa.

Ada yang awalnya percaya kepada Tuhan, namun ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan, mulai melirik Tuhan.

Mengapa?

Karena dunia sedang berusaha menarik kita keluar dari anugerah Bapa.

Oleh karena itu, gereja Tuhan hari ini tidak bisa hidup santai.

Kita harus berdoa.

Kita harus menjaga-jaga.

Kita harus tetap kuat.

Bukan kuat karena kemampuan kita.

Bukan kuat karena uang kita.

Bukan kuat karena jabatan kita.

Tetapi kuat karena Tuhan.


I. DAUD JUGA PERNAH BERADA DI “PADANG GURUN”

Mazmur 63 ditulis oleh Daud ketika ia berada di padang gurun Yehuda.

Daud sedang melarikan diri dan bersembunyi karena Absalom, anaknya sendiri, melakukan kudeta dan berusaha merebut tahtanya.

Bayangkan keadaan Daud.

Dia seorang raja.

Dia pernah tinggal di istana.

Dia mempunyai kekuasaan.

Dia mempunyai pasukan.

Tetapi sekarang dia berada di padang gurun.

Tempat yang tandus.

Kering.

Panas.

Kekurangan air.

Tidak nyaman.

Tidak aman.

Secara manusia, Daud sedang berada dalam situasi yang sangat sulit.

Tetapi menariknya, ketika Daud berada di padang gurun, yang paling dia rindukan bukan istana.

Bukan tahtanya.

Bukan kekayaannya.

Bukan kenyamanannya.

Tetapi Tuhan.

Mazmur 63:2 berkata:

“Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu.”

Perhatikan baik-baik.

Tubuh Daud berada di padang gurun, tetapi hatinya mencari Tuhan.

Ini yang membedakan orang yang memiliki Tuhan dengan orang yang tidak memiliki Tuhan.

Ketika keadaan sulit, orang yang tidak memiliki Tuhan akan bertanya:

“Di mana Tuhan?”

Tetapi orang yang sungguh-sungguh mengenal Tuhan akan berkata:

“Tuhan, aku membutuhkan Engkau lebih daripada sebelumnya.”


II. MUNGKIN SAAT INI SAUDARA SEDANG BERADA DI PADANG GURUN

Bapak/Ibu dan saudara yang diberkati Tuhan,

Mungkin ada di antara kita yang hari ini sedang berada di “padang gurun”.

Bukan padang gurun secara fisik.

Tetapi padang gurun kehidupan.

Ada yang sedang mengalami masalah ekonomi.

Ada yang usaha sedang sepi.

Ada yang penghasilannya tidak cukup.

Ada yang sedang mencari pekerjaan.

Ada yang sedang menghadapi persoalan keluarga.

Ada yang sedang mengalami tekanan dalam pelayanan.

Ada yang sedang menghadapi pergumulan pribadi yang tidak diketahui oleh orang lain.

Di luar kita tersenyum.

Tetapi di dalam hati kita sedang menangis.

Orang melihat kita baik-baik saja.

Tetapi sebenarnya kita sedang berkata:

“Tuhan, saya sudah tidak kuat.”

Tetapi hari ini saya mau sampaikan kepada saudara:

PADANG GURUN BUKAN BERARTI TUHAN MENINGGALKAN KITA.

Daud berada di padang gurun, tetapi Tuhan tetap bersamanya.

Dan kalau Tuhan sanggup menyertai Daud di padang gurun, Tuhan juga sanggup menyertai saudara di padang gurun kehidupan saudara.


III. JANGAN SALAH MENILAI SUMBER BERKAT

Kita belajar dari kisah Abraham dan Lot.

Ketika Abraham memberikan kesempatan kepada Lot untuk memilih tanah, Lot memilih tanah yang kelihatannya paling subur.

Secara manusia, Lot berpikir:

“Kalau saya mendapatkan tanah yang subur, hidup saya pasti diberkati.”

Tetapi Abraham mendapatkan bagian yang secara manusia kelihatannya kurang baik.

Apa yang Abraham mengerti?

Bukan tanah yang membawa berkat, tetapi Tuhan yang membawa berkat.

Ini penting untuk kita pahami.

Jangan berpikir:

“Kalau saya punya banyak uang, saya diberkati.”

“Kalau usaha saya ramai, saya diberkati.”

“Kalau saya punya jabatan, saya diberkati.”

Tidak!

Berkat terbesar bukanlah apa yang ada di tangan kita, tetapi siapa yang ada bersama kita.

Kalau Tuhan bersama kita, padang gurun sekalipun dapat menjadi tempat Tuhan menyatakan kuasa-Nya.


BAGAIMANA AGAR KITA TETAP KUAT DI MASA KESUKARAN?

Mazmur 63 memberikan beberapa prinsip penting.


1. KITA HARUS TERUS MENCARI TUHAN

Mazmur 63:2

Daud berkata:

“Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau.”

Daud sedang dalam kesulitan.

Tetapi apa yang dia lakukan?

Dia mencari Tuhan.

Bukan meninggalkan Tuhan.

Bukan menyalahkan Tuhan.

Bukan menjauh dari Tuhan.

Tetapi mencari Tuhan.

Mazmur 9:11 berkata:

“Sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya Tuhan.”

Lihat janji Tuhan!

Tuhan tidak meninggalkan orang yang mencari Dia.

Ratapan 3:25 berkata bahwa Tuhan itu baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

Bahkan dalam Amos 5:4 dan 5:6 ada seruan yang sama:

“Carilah Aku, maka kamu akan hidup!”

Saudara,

Kalau sedang susah, cari Tuhan.

Kalau sedang bingung, cari Tuhan.

Kalau sedang takut, cari Tuhan.

Kalau usaha sedang jatuh, cari Tuhan.

Kalau keluarga sedang bermasalah, cari Tuhan.

Jangan pertama-tama mencari manusia.

Jangan pertama-tama mencari jalan pintas.

Carilah Tuhan!


Kita belajar dari Yosafat

Dalam 2 Tawarikh 20, Yosafat menghadapi ancaman besar.

Bani Moab, Bani Amon dan pasukan lainnya datang menyerang.

Yosafat takut.

Tetapi ketakutannya tidak membuat dia menjauh dari Tuhan.

Dia mengambil keputusan:

MENCARI TUHAN.

Dia mengajak seluruh Yehuda berpuasa.

Mereka berdoa.

Mereka menyembah.

Mereka memuji Tuhan.

Dan Tuhan memberikan kemenangan.

Saudara,

ketika kita tidak tahu harus melakukan apa, lakukan apa yang dilakukan Yosafat: cari Tuhan.


2. TETAP MEMANDANG KEPADA TUHAN

Mazmur 63:3

Daud berkata bahwa ia memandang Tuhan untuk melihat kekuatan dan kemuliaan-Nya.

Artinya, fokus Daud bukan kepada padang gurun, tetapi kepada Tuhan.

Saudara,

Masalah kita memang nyata.

Kesulitan memang nyata.

Krisis memang nyata.

Tetapi Tuhan juga nyata!

Jangan sampai masalah kita lebih besar di mata kita daripada Tuhan.

Mazmur 16:8 berkata:

“Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.”

Perhatikan kalimat terakhir:

“Aku tidak goyah.”

Mengapa?

Karena dia memandang Tuhan.

Ibrani 6:19 mengatakan bahwa pengharapan kita adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa.

Kapal dapat diterpa ombak.

Angin dapat bertiup kencang.

Tetapi selama jangkar tertanam kuat, kapal tidak akan hanyut.

Begitu juga kehidupan kita.

Kalau pengharapan kita tertanam di dalam Tuhan, kita tidak akan mudah hanyut oleh keadaan.


3. TETAP MEMUJI TUHAN

Mazmur 63:5–6

Ini luar biasa.

Daud sedang berada dalam masalah, tetapi Daud berkata:

“Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku.”

Daud memuji Tuhan bukan karena semuanya sedang baik.

Daud memuji Tuhan di tengah keadaan yang tidak baik.

Saudara,

Ada orang bisa memuji Tuhan kalau hidupnya sedang diberkati.

Kalau usaha ramai, dia memuji Tuhan.

Kalau uang banyak, dia memuji Tuhan.

Kalau masalah selesai, dia memuji Tuhan.

Tetapi Daud mengajarkan sesuatu yang berbeda:

Saya memuji Tuhan bukan hanya karena keadaan saya baik, tetapi karena Tuhan tetap baik.

Saya mau bertanya kepada kita semua.

Ketika kita datang ke gereja dan bernyanyi:

Nama siapa yang sedang kita tinggikan?

Nama kita?

Atau nama Tuhan?

Kadang-kadang kita bisa menjadi “rempong” dengan pujian.

“Kenapa lagunya begitu?”

“Kenapa lagunya bahasa Inggris?”

“Kenapa tidak menggetarkan?”

“Kenapa pujiannya tidak mengangkat?”

Saudara,

yang kita tinggikan bukan lagunya.

Yang kita tinggikan adalah Tuhan.

Lagu hanyalah sarana.

Musik hanyalah sarana.

Yang menjadi pusat penyembahan kita adalah Yesus Kristus.


Habakuk memberikan teladan yang luar biasa

Habakuk 3:17–18 berkata, sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil ladang mengecewakan, ternak tidak ada dalam kandang—

“Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan.”

Ini iman!

Habakuk sedang berkata:

“Sekalipun keadaan saya tidak sesuai dengan harapan, saya tetap memilih memuji Tuhan.”

Karena kalau kita hanya memuji Tuhan ketika keadaan baik, maka pujian kita tergantung keadaan.

Tetapi kalau kita bisa memuji Tuhan ketika keadaan sulit, itu menunjukkan bahwa iman kita tidak tergantung keadaan.

Bapak/Ibu,

Musim hidup kita berbeda-beda.

Ada musim hujan.

Ada musim panas.

Ada musim berbuah.

Ada musim menunggu.

Ada musim menangis.

Ada musim bersukacita.

Tetapi satu hal yang tidak pernah berubah:

TUHAN SELALU ADA DALAM SETIAP MUSIM HIDUP KITA.


4. SELALU MERENUNGKAN FIRMAN ALLAH

Mazmur 63:7–8

Daud berkata bahwa ia mengingat Tuhan di tempat tidurnya dan merenungkan Dia sepanjang malam.

Mengapa?

Karena Firman Tuhan memberikan kekuatan kepada kita.

Mazmur 1:1–3 menggambarkan orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan yang merenungkannya siang dan malam.

Dia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air.

Ada akar.

Ada sumber kehidupan.

Karena itu dia dapat bertahan.

Saudara,

Dunia boleh berubah.

Ekonomi boleh berubah.

Harga kebutuhan boleh naik.

Manusia bisa mengecewakan.

Tetapi Firman Tuhan tidak pernah berubah.

1 Petrus 1:24–25 berkata:

“Rumput menjadi kering dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap selama-lamanya.”

Karena itu, kalau kita sedang berada dalam masa sukar, jangan hanya memenuhi pikiran dengan berita buruk.

Jangan setiap hari hanya mendengar perkataan negatif.

Jangan terus berkata:

“Saya tidak bisa.”

“Saya tidak sanggup.”

“Hidup saya hancur.”

“Tidak ada harapan.”

Tetapi mulai hari ini, perkatakan Firman Tuhan.

Katakan:

“Tuhan adalah pertolonganku.”

“Tuhan tidak meninggalkan saya.”

“Saya akan tetap kuat di dalam Tuhan.”

“Saya percaya Tuhan punya jalan.”

Mazmur 71:5:

“Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan Allahku, kepercayaanku sejak masa mudaku.”

Saudara,

PERKATAAN MEMILIKI KEKUATAN.

Karena itu, isi mulut kita dengan Firman Tuhan.


5. KITA HARUS MELEKAT KEPADA TUHAN

Mazmur 63:9

Daud berkata:

“Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.”

Kata “melekat” berarti mempunyai hubungan yang sangat erat dan bergantung sepenuhnya.

Yesus berkata dalam Yohanes 15:1–8 tentang pokok anggur yang benar.

Berkata-kata tidak dapat hidup sendiri.

Ranting harus melekat pada pokok.

Kalau mengomel terpisah dari pokok, ia akan kering.

Begitu juga kita.

KITA TIDAK AKAN KUAT KALAU KITA TERPISAH DARI YESUS.

Kita bisa punya pengalaman.

Kita bisa punya pendidikan.

Kita bisa punya uang.

Kita bisa punya jabatan.

Kita bisa punya banyak teman.

Tetapi semua itu tidak dapat menggantikan hubungan pribadi dengan Tuhan.

Karena itu:

Tetap berpegang teguh kepada Yesus.

Ketika senang, melekat kepada Yesus.

Ketika sedih, melekat kepada Yesus.

Ketika keunikannya melekat pada Yesus.

Ketika kekurangannya, melekat kepada Yesus.

Ketika menang, melekat kepada Yesus.

Ketika gagal, tetap melekat pada Yesus.


PENUTUP

Bapak/Ibu dan saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Hari ini kita belajar dari Daud.

Daud berada di padang gurun.

Tetapi Daud tidak tumbang.

Daud tetap kuat.

Mengapa?

Karena Daud:

  1. Mencari Tuhan.
  2. Memandang kepada Tuhan.
  3. Memuji Tuhan.
  4. Merenungkan Firman Tuhan.
  5. Melekat kepada Tuhan.

Dan saya percaya, pesan Tuhan kepada kita hari ini adalah:

“JANGAN TUMBANG DI TENGAH JALAN!”

Mungkin perjalanan kita belum selesai.

Mungkin masih ada masalah.

Mungkin masih ada air mata.

Mungkin masih ada pergumulan.

Tetapi jangan berhenti!

KITA HARUS KUAT SAMPAI SELESAI!

Jangan sampai kita kalah sebelum garis akhir.

Jangan sampai kita meninggalkan Tuhan hanya karena keadaan.

Jangan sampai kesulitan membuat kita kehilangan iman.

Karena Tuhan yang menyertai Daud adalah Tuhan yang sama yang menyertai kita hari ini.

Dan saya ingin katakan kepada saudara:

Padang gurun bukan akhir cerita.

Air mata bukan akhir cerita.

Kegagalan bukan akhir cerita.

Kesulitan bukan akhir cerita.

Karena ketika Tuhan ada bersama kita,

MASUH ADA HARAPAN!


AJAKAN

Kalau hari ini saudara sedang berada di padang gurun kehidupan, jangan menyerah.

Kalau hari ini saudara sedang lemah, datanglah kepada Tuhan.

Kalau hari ini saudara sedang kehilangan pengharapan, pandanglah kepada Tuhan.

Kalau hari ini saudara merasa tidak sanggup, katakan:

“Tuhan, aku tidak kuat kalau sendiri.Tetapi aku kuat karena Engkau bersamaku.”

Mari kita terus mencari Tuhan.

Mari kita terus memandang Tuhan.

Mari kita terus memuji Tuhan.

Mari kita terus memikirkan Firman Tuhan.

Dan mari kita terus melekat kepada Yesus.

Karena yang membuat kita kuat bukanlah keadaan yang baik, melainkan Tuhan yang baik.


LAGU PENUTUP

“Ini Kisahku, Ini Laguku”

Inilah kisahku, inilah laguku,
memuji Juruselamatku sepanjang hari.
Inilah kisahku, inilah laguku,
memuji Juruselamatku sepanjang hari.

Dan kita tutup dengan lagu:

Aku bernyanyi bahagia
Memuji Yesus selamanya
Aku bernyanyi bahagia
Memuji Yesus selamanya

TUHAN MEMBERKATI.

TUHAN MENGUATKAN.

TUHAN MENOPANG.

DAN TUHAN MEMBAWA KITA SAMPAI KE GARIS FINISH.

Amin!

Enjoying this article?

Subscribe to get new posts delivered straight to your inbox. No spam, unsubscribe anytime.

No spam. Unsubscribe anytime.

Kabar Lainnya

Semua Info

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *