Tuhan adalah Penasihat yang Ajaib dan Hakim yang Adil

dmsd1 Avatar

KHOTBAH

Tema: Tuhan adalah Penasihat yang Ajaib dan Hakim yang Adil

Ps.Illen.Leatemia,S.Th

 

Nas Pembacaan:

  • Ayub 4:1–2
  • Ayub 5:1–7
  • Yesaya 9:6
  • Wahyu 16:7
  • Wahyu 19:2

Shalom…

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa hanya Tuhan yang layak menjadi Penasihat yang Ajaib dan Hakim yang Adil.

Dalam Yesaya 9:6, Tuhan Yesus disebut sebagai Penasihat Ajaib. Artinya, nasihat-Nya tidak pernah salah, tidak pernah dipengaruhi emosi, kepentingan, atau prasangka. Sedangkan dalam Wahyu 16:7 dan Wahyu 19:2 ditegaskan bahwa penghakiman Tuhan adalah benar dan adil. Keadilan yang sempurna hanya ada pada Allah.

Lalu bagaimana dengan manusia?

Di dalam kitab Ayub kita melihat seorang yang saleh justru mengalami penderitaan yang luar biasa. Ia kehilangan harta, anak-anaknya, kesehatannya, bahkan harga dirinya.

Yang menyedihkan bukan hanya penderitaan itu sendiri, tetapi ketika sahabat-sahabat Ayub datang.

Awalnya mereka datang dengan niat menghibur. Mereka duduk bersama Ayub selama tujuh hari tanpa berkata-kata. Namun setelah Ayub mencurahkan isi hatinya dalam pasal 3, mulailah Elifas berbicara.

Dalam Ayub pasal 4 dan 5, Elifas memberikan nasihat yang terdengar rohani. Kata-katanya seolah penuh hikmat, tetapi sebenarnya dipenuhi penghakiman.

Ia beranggapan bahwa penderitaan Ayub pasti akibat dosa. Menurut Elifas, orang benar tidak mungkin menderita. Karena itu, ia secara tidak langsung menuduh Ayub sebagai orang munafik.

Di sinilah letak kesalahan Elifas.

Ia berbicara seolah-olah mengetahui isi hati Tuhan. Ia mengambil posisi yang seharusnya hanya dimiliki oleh Allah, yaitu menjadi hakim atas kehidupan orang lain.

Saudara-saudara,

Bukankah sering kali kita juga melakukan hal yang sama?

Ketika ada saudara seiman mengalami kesulitan, sakit, kehilangan pekerjaan, usaha bangkrut, atau keluarganya bermasalah, tanpa sadar kita berkata,

“Mungkin karena dosanya.”

“Pasti ada yang disembunyikan.”

“Makanya jangan hidup sembarangan.”

Kita merasa sedang memberi nasihat, padahal sebenarnya kita sedang menghakimi.

Kita merasa paling rohani.

Kita merasa paling tahu.

Kita merasa paling benar.

Padahal kita tidak mengetahui seluruh rencana Allah.

Benar bahwa kadang-kadang penderitaan merupakan akibat dosa. Tetapi Alkitab juga menunjukkan bahwa tidak semua penderitaan disebabkan oleh dosa. Ada penderitaan yang Tuhan izinkan sebagai proses pembentukan iman, sebagai ujian kesetiaan, bahkan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Karena itu jangan cepat menghakimi.

Yang mengetahui seluruh kebenaran hanyalah Tuhan.

Elifas akhirnya ditegur Tuhan karena gagal memahami maksud Allah atas kehidupan Ayub.

Saudara-saudara,

Hari ini mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Apakah ketika orang lain menderita, kita hadir sebagai penghibur atau justru sebagai hakim?

Firman Tuhan dalam Amsal 17:17 berkata,

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

Sahabat sejati bukan orang yang pandai mencari kesalahan, tetapi yang setia mendampingi dalam penderitaan.

Dalam 2 Korintus pasal 7 kita melihat bagaimana kehadiran Titus membawa penghiburan sehingga jemaat kembali memiliki sukacita.

Artinya, kehadiran seseorang bisa menjadi kekuatan bagi orang lain.

Sebaliknya, perkataan yang salah dapat menjadi beban yang semakin menghancurkan hati seseorang.

Karena itu, biarlah kehadiran kita menjadi jawaban Tuhan bagi mereka yang sedang bergumul.

Bukan menambah luka.

Bukan memperbesar penderitaan.

Bukan mempermalukan mereka.

Tetapi menguatkan, menghibur, dan membawa mereka semakin dekat kepada Tuhan.

Firman Tuhan dalam Matius 5:9 berkata,

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”

Pertanyaannya hari ini:

Apakah kita pembawa damai?

Ataukah justru pembawa masalah?

Apakah setiap kali kita datang, orang lain merasa dikuatkan?

Atau justru merasa dihakimi?

Ada satu pelajaran penting lagi.

Sebelum kita menasihati orang lain, berdamailah terlebih dahulu dengan Tuhan dan dengan diri sendiri.

Orang yang hatinya penuh luka akan sulit mengucapkan kata-kata yang membangun.

Orang yang belum berdamai dengan Tuhan akan mudah menghakimi sesama.

Karena orang sakit tidak dapat menyembuhkan orang sakit.

Hanya orang yang sudah dipulihkan Tuhan yang dapat menjadi alat pemulihan bagi orang lain.

Oleh sebab itu, mintalah agar Roh Kudus memenuhi hati kita.

Biarlah setiap perkataan kita lahir dari kasih, bukan dari kesombongan.

Lahir dari belas kasihan, bukan dari penghakiman.

Lahir dari hikmat Tuhan, bukan dari pendapat pribadi.

Penutup

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Mari kita ingat tiga pelajaran penting hari ini:

  1. Hanya Tuhan yang adalah Penasihat yang Ajaib dan Hakim yang Adil.
  2. Jangan mengambil posisi sebagai hakim atas kehidupan orang lain, karena kita tidak mengetahui seluruh rencana Tuhan.
  3. Jadilah pembawa damai, penghibur, dan saluran kasih Tuhan bagi mereka yang sedang menderita.

Kiranya setiap perkataan, sikap, dan kehadiran kita menjadi berkat, bukan menjadi beban.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Amin.

Enjoying this article?

Subscribe to get new posts delivered straight to your inbox. No spam, unsubscribe anytime.

No spam. Unsubscribe anytime.

Kabar Lainnya

Semua Info

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *