KHOTBAH
PENYEMBAH ATAU PENGAMAT

Nats: 2 Samuel 6:20–23
Oleh: Ps. Illen Leatemia, S.Th
Shalom, Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Mari kita membuka Firman Tuhan dari 2 Samuel 6:20-23 . Perikop ini menceritakan tentang pemindahan Tabut Perjanjian ke Yerusalem. Tabut Tuhan adalah lambang hadirat Allah di tengah umat-Nya.
Di dalam kisah ini kita menemukan dua tokoh yang sangat kontras, yaitu Daud dan Mikhal . Keduanya bukan orang asing. Keduanya hidup di lingkungan kerajaan. Apalagi Mikhal adalah istri Daud. Namun, meski berada di tempat yang sama, sikap hati mereka sangat berbeda. Dan karena sikap hati yang berbeda, hasil akhirnya pun berbeda.
Hari ini saya ingin mengajak kita mempertimbangkan sebuah pertanyaan penting:
“Apakah kita datang beribadah sebagai penyembah atau hanya sebagai pengamat?”
I.MIKHAL: PENGAMAT YANG MENJAGA GENGSI
Seorang pengamat biasanya hanya melihat, menilai, mengkritik, tetapi tidak terlibat. Itulah yang dilakukan Mikhal.
1. Dekat secara posisi, tetapi jauh secara hati
Mikhal tinggal di istana bersama Daud. Ia dekat dengan pusat pemerintahan, bahkan dekat dengan pemimpin yang diurapi Tuhan.
Tetapi ketika Tabut Tuhan memasuki Yerusalem, Mikhal tidak ikut menyambut hadirat Allah. Ia hanya melihat dari jendela.
Ini menggambarkan banyak orang percaya yang sudah lama bergereja, memiliki pelayanan, bahkan jabatan rohani, namun hatinya tidak lagi bergetar ketika hadirat Tuhan dinyatakan.
Padahal ketika umat Tuhan sehati dan menyembah-Nya, mujizat terjadi.
Tembok Yerikho runtuh bukan karena strategi perang, tetapi karena ketaatan dan penyembahan.
Dalam keluarga, ketika suami dan istri sepakat berdoa, hadirat Tuhan hadir dan mujizat dinyatakan.
Dekat dengan gereja belum tentu dekat dengan Tuhan. Yang Tuhan cari adalah hati yang haus akan hadirat-Nya.
2. Melihat dengan mata pengamat, bukan mata penyembah
Yang dilihat Mikhal bukan Tabut Tuhan.
Yang dilihat bukan kemuliaan Allah.
Yang dilihat hanyalah penampilan Daud.
Berapa banyak orang hari ini yang lebih sibuk mengulas cara orang memuji Tuhan daripada ikut menyembah Tuhan?
Firman Tuhan berkata dalam 1 Samuel 16:7 :
“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”
Pengamat selalu fokus pada gaya, metode, penampilan, bahkan kesalahan-kesalahan kecil.
Tetapi penyembah melihat Tuhan.
Daud tidak peduli seperti orang gila.
Yang penting baginya hanyalah satu:
“Aku ingin menikmati hadirat Tuhan.”
3. Terikat oleh gengsi masa lalu
Sebagai putri Raja Saul, Mikhal dibesarkan dalam budaya kerajaan yang penuh formalitas.
Baginya seorang raja harus menjaga wibawa, menjaga citra, tidak boleh terlalu emosional.
Tetapi sering kali gengsi menjadi penghalang seseorang mengalami hadirat Tuhan.
Firman Tuhan mencatat bahwa Mikhal tidak memiliki keturunan sampai akhir hidupnya.
Secara rohani, ini menggambarkan hati yang sinis akan menjadi hati yang kering.
Gereja bisa penuh aktivitas.
Pelayanan bisa banyak.
Tetapi jika hati dipenuhi kritik, kesombongan, dan gengsi, maka akan terjadi kemandulan rohani.
II. DAUD: PENYEMBAH YANG BERANI MERENDAH
Berbeda dengan Mikhal, Daud adalah seorang penyembah sejati.
Semakin kecil dirinya, semakin besar Tuhan yang dimuliakan.
Kata penyembahan dalam bahasa Yunani adalah Proskuneo , yang berarti sujud, tersungkur, dan penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan.
1. Daud sadar siapa yang memilih dia
Daud berkata bahwa Tuhanlah yang memilih dirinya menggantikan keluarga Saul.
Ia sadar dirinya menjadi raja bukan karena hebat.
Semuanya karena terima kasih karunia.
Yakobus 4:6 berkata:
“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
Kalau hari ini kita masih sehat…
Masih bekerja…
Masih diberkati…
Masih bisa dipamerkan…
Itu bukan karena kekuatan kita.
Semuanya adalah anugerah Tuhan.
Kesadaran akan anugerah selalu melahirkan penyembahan.
2. Daud menyembah Tuhan, bukan manusia
Daud menari di hadapan Tuhan.
Motivasinya jelas.
Bukan mencari pujian.
Bukan tinjauan.
Tidak populer.
Tetapi menyenangkan hati Tuhan.
Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang mengejar pengakuan manusia.
Tetapi penyembah sejati hanya mencari senyum Tuhan.
Roma 8:34 mengingatkan bahwa Kristus sendiri menjadi Pembela kita.
Kalau Tuhan sudah membela kita, mengapa kita harus sibuk mencari pembenaran dari manusia?
3. Rela kehilangan gengsi demi hadirat Tuhan
Daud berkata:
“Aku akan menghinakan diriku lebih dari itu.”
Luar biasa.
Seorang raja rela terlihat biasa demi Tuhan.
Kolose 3:12 berkata:
“Kenakanlah kerendahan hati.”
Amsal 18:12 berkata:
“Kerendahan hati mendahului kehormatan.”
Amsal 22:4 berkata:
“Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.”
Penyembah tidak malu mengangkat tangan.
Tidak malu menangis.
Tidak malu.
Karena dia hadirat Tuhan jauh lebih berharga daripada menghormati manusia.
4. Penyembahan melahirkan masa depan
Secara teologis, dari keturunan Daud lahirlah Mesias, Yesus Kristus, yang menyelamatkan dunia.
Penyembahan tidak hanya terjadi pada hari ini.
Penyembahan sedang membangun masa depan.
Penyembahan melahirkan generasi.
Penyembahan membuka pintu berkat yang kekal.
Apa yang dilakukan di hadapan Tuhan tidak pernah sia-sia.
penutup
Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Setiap kali ibadah dimulai…
Setiap lagu diangkat…
Setiap Firman diberitakan…
Pertanyaannya bukanlah:
“Apakah penyanyinya?”
“Mengingatkan pengnya?”
“Memuat musiknya?”
Tetapi pertanyaannya adalah:
“Di mana posisi hati saya?”
Apakah saya sedang menjadi pengamat…
Sedang menilai…
Sedang membandingkan…
Ataukah saya sedang memahami diri dan menikmati hadirat Tuhan?
Jangan menjadi seperti Mikhal yang memiliki hati dingin di hadapan Tuhan.
Hari ini Tuhan tidak sedang mencari orang yang paling pintar.
Bukan mencari orang yang paling bergengsi.
Bukan mencari orang yang paling terhormat.
Tetapi Tuhan sedang mencari penyembah-penyembah sejati.
Seperti yang dikatakan dalam Yohanes 4:23-24 :
“Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
Mari hari ini kita mengambil keputusan:
“Tuhan, aku tidak peduli apa kata orang. Aku mau menjadi penyembah-Mu. Aku mau hidup dalam kerendahan hati, menikmati hadirat-Mu, dan memuliakan nama-Mu sepanjang hidupku.”
Tuhan Yesus memberkati. Amin.



Leave a Comment