KHOTBAH MINGGU
Minggu, 11 Oktober 2026
APA ARTI HIDUPKU DI DUNIA INI TANPA YESUS?
Nats Utama: Filipi 1:21
“Karena hidup di sini adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Pelayan Firman : Ps. Jimmy Soumokil
Ibadah Minggu, 11 Oktober 2026
I. PENDAHULUAN
Syalom! Salam sejahtera bagi kita semua dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, pada hari Minggu yang penuh berkat ini, kami akan memikirkan sebuah pertanyaan yang sangat penting bagi kehidupan setiap orang percaya:
“Apa arti hidupku di dunia ini tanpa Yesus?”
Ini bukan sekadar pertanyaan untuk didengar, bukan pula hanya bahan renungan untuk satu hari Minggu. Ini adalah pertanyaan yang harus kita jawab dengan jujur di hadapan Tuhan.
Saudara, manusia bisa memiliki banyak hal di dunia ini. Kita bisa mempunyai rumah yang bagus, kendaraan, pekerjaan, jabatan, kekayaan, pendidikan yang tinggi, keluarga, dan berbagai keberhasilan lainnya. Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: Jika semua yang kita miliki itu ada, tetapi Yesus tidak menjadi pusat kehidupan kita, apakah hidup kita benar-benar memiliki arti?
Ada orang yang terlihat bahagia di luar, tapi hatinya kosong. Ada orang yang memiliki banyak harta, namun tidak memiliki kedamaian sejahtera. Ada orang yang dihormati banyak orang, tetapi kehilangan arah hidupnya. Ada pula orang yang sibuk mengejar keberhasilan dunia, namun perlahan-lahan menjauh dari Tuhan.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena hidup manusia tidak hanya membutuhkan sesuatu untuk dimiliki, tetapi juga membutuhkan Pribadi yang menjadi dasar, tujuan, dan sumber kehidupan. Pribadi itu adalah Yesus Kristus.
Rasul Paulus berkata dalam Filipi 1:21:
“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Perhatikan perkataan Paulus: “Bagiku hidup adalah Kristus.” Paulus tidak berkata bahwa hidupnya adalah kekayaan, kedudukan, popularitas, atau keberhasilan. Baginya, Kristus adalah pusat dan tujuan hidup.
Paulus memahami bahwa selama ia hidup, hidupnya harus dipakai untuk memuliakan Kristus. Bahkan ketika menghadapi kematian, ia tetap memiliki pengharapan di dalam Tuhan.
Inilah yang perlu kita renungkan hari ini: Apakah Yesus benar-benar menjadi pusat kehidupan kita, ataukah kita hanya mencari Yesus ketika menghadapi masalah?
Mari kita belajar melalui dua kebenaran firman Tuhan.
II. POKOK KHOTBAH
1\. TANPA YESUS, HIDUP KITA KEHILANGAN ARAH
Bacaan: Yohanes 14:6; Amsal 14:12; 1 Yohanes 2:15–17
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan manusia bukanlah ketika seseorang kehilangan harta benda, melainkan ketika ia kehilangan arah hidupnya.
Mengapa? Karena seseorang yang kehilangan harta masih dapat berusaha kembali. Seseorang yang kehilangan pekerjaan masih dapat mencari pekerjaan yang baru. Namun, ketika seseorang kehilangan arah hidup dan tidak lagi mengetahui tujuan keberadaannya di hadapan Tuhan, ia dapat menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengejar sesuatu yang tidak membawa dirinya kepada kehidupan yang kekal.
Dalam Yohanes 14:6, Yesus berkata:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Yesus tidak sekadar menunjukkan jalan. Yesus sendiri adalah jalan menuju Bapa. Dia adalah kebenaran dan sumber kehidupan.
Artinya, ketika kita menjadikan Yesus sebagai pusat hidup, kita memiliki pedoman untuk melangkah, dasar untuk mengambil keputusan, dan pengharapan ketika menghadapi masa depan yang tidak kita ketahui.
Sebaliknya, ketika manusia berjalan menurut kehendaknya sendiri tanpa melibatkan Tuhan, ia bisa saja merasa bahwa dirinya sedang menuju keberhasilan, padahal sebenarnya sedang menjauh dari kehendak Allah.
Amsal 14:12 mengingatkan bahwa ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.
Tidak semua jalan yang terlihat baik di mata manusia berkenan di hadapan Tuhan.
Saudara, terkadang kita menganggap bahwa selama hidup kita berjalan lancar, berarti Tuhan pasti menyertai semua keputusan kita. Padahal, kelancaran bukan satu-satunya ukuran kebenaran. Ada keputusan yang menguntungkan secara materi, tetapi merusak kehidupan rohani. Ada kesempatan yang menjanjikan kedudukan, tetapi menuntut kita mengorbankan kejujuran. Ada hubungan yang menyenangkan hati, tetapi menjauhkan kita dari Tuhan.
Karena itu, kita tidak cukup hanya bertanya, “Apakah jalan ini menguntungkan saya?”
Kita juga harus bertanya, “Apakah jalan ini sesuai dengan kehendak Tuhan?”
A. Tanpa Yesus, kita mudah dikuasai keinginan dunia
Dalam 1 Yohanes 2:15–17, firman Tuhan memperingatkan kita agar tidak mengasihi dunia dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dengan cara yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Dunia menawarkan banyak hal yang menarik: kekayaan, kenikmatan, kebanggaan, popularitas, dan kekuasaan. Semua itu bisa menjadi godaan ketika mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan di dalam hati kita.
Perlu kita pahami, firman Tuhan bukan berarti kita tidak boleh bekerja, berusaha, memiliki harta, atau meraih keberhasilan. Yang Tuhan tegur adalah ketika keinginan duniawi menguasai hati kita sehingga kita mengabaikan firman-Nya.
Ada orang yang dahulu rajin beribadah, tetapi setelah berhasil dalam pekerjaan, ia mulai melupakan Tuhan.
Ada orang yang dahulu berdoa sebelum mengambil keputusan, tetapi setelah merasa dirinya hebat, ia mulai mengandalkan kekuatannya sendiri.
Ada orang yang dahulu mengutamakan keluarga dan pelayanan, tetapi setelah mengejar jabatan, ia tidak lagi memiliki waktu untuk Tuhan.
Saudara, jangan sampai berkat yang seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Tuhan justru menjadi alasan kita menjauh dari-Nya.
B. Tuhan mengetahui arah hidup kita
Kita tidak mengetahui seluruh perjalanan hidup kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tahun depan, atau beberapa tahun mendatang. Namun, Tuhan mengetahui segala sesuatu.
Karena itu, kita harus belajar menyerahkan perjalanan hidup kita kepada pimpinan-Nya.
Ketika kita menghadapi kesulitan, jangan langsung menyimpulkan bahwa Tuhan meninggalkan kita. Ketika pintu kesempatan tertutup, jangan terburu-buru merasa bahwa masa depan kita sudah berakhir. Ketika doa belum dijawab seperti yang kita harapkan, tetaplah percaya bahwa kita membutuhkan hikmat dan tuntunan-Nya.
Terkadang Tuhan tidak langsung mengubah keadaan kita, tetapi Dia membentuk hati kita agar semakin kuat dan dewasa di dalam iman.
Terkadang Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, karena kita perlu belajar mempercayai kehendak-Nya.
Terkadang perjalanan terasa panjang, tetapi kita tidak berjalan sendirian ketika hidup kita tetap berpegang kepada Kristus.
C. Dunia ini sementara, tetapi melakukan kehendak Allah membawa pengharapan kekal
Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 2:17 mengingatkan bahwa dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
Ini merupakan peringatan sekaligus penghiburan.
Peringatan, karena apa yang kita kejar di dunia ini tidak akan bertahan selamanya.
Penghiburan, karena hidup yang dijalani dalam ketaatan kepada Allah memiliki pengharapan yang melampaui kehidupan duniawi.
Jangan habiskan seluruh hidup untuk mencari jalan menuju keberhasilan dunia, tetapi lupa berjalan bersama Tuhan yang memberikan hidup itu sendiri.
Saudara yang dikasihi Tuhan, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
* Apakah Yesus masih menjadi pusat kehidupan saya?
* Apakah saya melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan?
* Apakah pekerjaan dan kesibukan saya membuat saya semakin dekat atau semakin jauh dari Tuhan?
* Apakah hidup saya menunjukkan ketaatan kepada firman-Nya?
Jika hari ini kita menyadari bahwa kita mulai kehilangan arah, jangan terus berjalan menjauh. Kembalilah kepada Yesus. Izinkan Dia memimpin hidup kita kembali.
2\. TANPA YESUS, KITA MUNGKIN MEMILIKI DUNIA, TETAPI KEHILANGAN JIWA
Bacaan: Markus 8:36; Matius 16:26; Lukas 9:25; Yakobus 4:4
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Pokok kedua ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang jauh lebih dalam.
Dalam Markus 8:36, Yesus berkata:
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?”
Pertanyaan ini sangat kuat. Yesus sedang mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan dunia, yaitu kehidupan kita di hadapan Allah.
Bayangkan seseorang yang berhasil mengumpulkan kekayaan sepanjang hidupnya. Ia memiliki rumah, kendaraan, usaha, tanah, dan berbagai investasi. Banyak orang menghormatinya. Namanya dikenal. Perkataannya didengar.
Namun, jika dalam proses mengejar semua itu ia kehilangan imannya, mengabaikan keluarganya, merusak hubungan dengan sesama, dan tidak lagi peduli terhadap kehendak Tuhan, apakah keberhasilan itu sungguh-sungguh membawa keuntungan yang sejati?
Saudara, harta dapat membantu kita menjalani kehidupan di dunia, tetapi harta tidak dapat menggantikan keselamatan yang kita butuhkan di dalam Kristus.
A. Harta diperlukan, tetapi harta bukan tujuan tertinggi hidup kita
Kita harus bekerja. Kita perlu memenuhi kebutuhan keluarga. Kita harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan, pendidikan anak, dan masa depan.
Tidak ada yang salah dengan bekerja keras dan berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik.
Namun, masalah muncul ketika harta menjadi tuan atas hidup kita.
Ketika uang lebih kita cintai daripada kebenaran, kita mulai membenarkan kebohongan.
Ketika jabatan lebih kita utamakan daripada integritas, kita mulai mengorbankan prinsip iman.
Ketika keuntungan menjadi segala-galanya, kita bisa tergoda untuk merugikan orang lain.
Ketika kesibukan mencari uang mengambil seluruh waktu kita, kita tidak lagi menyediakan waktu untuk berdoa, beribadah, melayani, dan membangun hubungan dengan keluarga.
Saudara, jangan sampai kita begitu sibuk mencari nafkah untuk keluarga, tetapi kehilangan kedekatan dengan keluarga itu sendiri. Jangan sampai kita begitu sibuk membangun masa depan anak-anak, tetapi melupakan tanggung jawab untuk mewariskan iman kepada mereka.
Jangan sampai tangan kita penuh dengan hasil pekerjaan, tetapi hati kita kosong dari hadirat Tuhan.
Kita boleh memiliki harta, tetapi jangan membiarkan harta memiliki hati kita.
B. Jangan menukar keselamatan dengan keuntungan dunia
Matius 16:26 kembali menegaskan pertanyaan Yesus tentang keuntungan memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawa.
Ini mengajarkan bahwa nilai kehidupan manusia tidak dapat diukur hanya dari jumlah kekayaan, tingginya jabatan, atau besarnya pengaruh.
Ada hal-hal yang tidak boleh kita tukarkan dengan keuntungan apa pun.
Jangan menukar kejujuran dengan uang.
Jangan menukar kesetiaan kepada Tuhan dengan popularitas.
Jangan menukar damai sejahtera dengan ambisi yang tidak terkendali.
Jangan menukar waktu bersama keluarga dengan kesibukan yang tidak pernah selesai.
Dan jangan menukar ketaatan kepada firman Tuhan dengan kesenangan yang hanya berlangsung sesaat.
Saudara, keuntungan dunia bisa terlihat dan dapat dihitung. Namun, nilai kehidupan rohani tidak selalu terlihat oleh mata manusia.
Karena itu, kita perlu memeriksa hati kita sendiri.
Apakah kita mengejar berkat Tuhan, atau hanya mengejar berkat tanpa menginginkan Tuhan?
Apakah kita datang kepada Tuhan karena mengasihi-Nya, atau hanya ketika kita membutuhkan pertolongan-Nya?
Apakah kita tetap setia ketika doa kita belum dijawab sesuai keinginan kita?
Iman yang dewasa tidak hanya memuji Tuhan ketika mendapatkan berkat. Iman yang dewasa juga tetap percaya ketika harus melewati lembah kehidupan.
C. Persahabatan dengan dunia dapat menjauhkan kita dari Allah
Yakobus 4:4 memberikan peringatan keras mengenai persahabatan dengan dunia yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Ayat ini bukan larangan untuk mengasihi sesama manusia atau hidup bermasyarakat. Sebaliknya, ayat ini menegur sikap hati yang memilih nilai-nilai dunia yang bertentangan dengan Allah.
Kita hidup di tengah dunia, tetapi kita tidak boleh membiarkan dunia menentukan seluruh nilai kehidupan kita.
Ketika dunia mengatakan bahwa kebohongan dapat dibenarkan demi keuntungan, firman Tuhan tetap memanggil kita untuk hidup dalam kebenaran.
Ketika dunia mengajarkan balas dendam, Tuhan mengajar kita untuk mengampuni.
Ketika dunia mengukur manusia dari kekayaan dan kedudukan, Tuhan melihat hati dan kesetiaan kita.
Ketika dunia mendorong kita mengejar kebanggaan diri, Tuhan memanggil kita untuk hidup rendah hati dan melayani.
Saudara, jangan sampai kita begitu ingin diterima oleh dunia sehingga kehilangan kesetiaan kepada Kristus.
Lebih baik kita kehilangan keuntungan sesaat karena tetap mempertahankan kebenaran daripada memperoleh keuntungan dengan mengorbankan hati nurani dan ketaatan kepada Tuhan.
D. Hidup bersama Yesus memberikan makna yang tidak dapat diberikan dunia
Lukas 9:25 juga mengingatkan kita tentang bahaya memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan atau merugikan diri sendiri.
Yesus mengajak kita melihat kehidupan dari sudut pandang kekekalan.
Apa yang kita miliki sekarang tidak akan kita bawa sebagai harta duniawi ketika kita meninggal. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan berlalu. Kekuatan fisik akan melemah.
Namun, selama kita masih diberi kesempatan hidup, kita dapat menggunakan waktu, talenta, pekerjaan, dan harta kita untuk melakukan sesuatu yang berkenan kepada Tuhan.
Kita dapat menolong orang yang membutuhkan.
Kita dapat mengampuni orang yang menyakiti kita.
Kita dapat menjadi berkat bagi keluarga.
Kita dapat melayani dengan setia.
Kita dapat menyampaikan kasih Kristus melalui perkataan dan perbuatan.
Itulah salah satu wujud hidup yang memiliki makna di dalam Tuhan.
Jadi, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan hanya, “Berapa banyak yang sudah saya miliki?”
Melainkan, “Untuk siapa saya menjalani hidup ini, dan apakah hidup saya memuliakan Yesus?”
III. BAGAIMANA KITA MENJALANI HIDUP YANG BERARTI BERSAMA YESUS?
Setelah merenungkan dua pokok firman Tuhan ini, ada tiga langkah praktis yang perlu kita lakukan.
Pertama, jadikan Yesus sebagai pusat kehidupan.
Jangan hanya mencari Tuhan ketika menghadapi persoalan. Bangunlah hubungan dengan-Nya setiap hari melalui doa, pembacaan firman, ibadah, dan ketaatan.
Kedua, gunakan berkat dunia untuk tujuan yang berkenan kepada Tuhan.
Jika Tuhan memberikan pekerjaan, lakukan dengan jujur. Jika Tuhan memberikan harta, gunakan dengan bertanggung jawab. Jika Tuhan memberikan jabatan, pakailah untuk melayani. Jika Tuhan memberikan kemampuan, gunakan untuk menjadi berkat bagi sesama.
Ketiga, hiduplah dengan perspektif kekekalan.
Jangan hanya memikirkan apa yang akan kita capai hari ini, tetapi pikirkan juga kehidupan seperti apa yang sedang kita bangun di hadapan Tuhan.
Tanyakan kepada diri sendiri: Apakah orang-orang di sekitar saya melihat kasih Kristus melalui hidup saya? Apakah keluarga saya mengalami kebaikan Tuhan melalui perkataan dan tindakan saya? Apakah keberadaan saya membawa damai, pengharapan, dan pertolongan bagi orang lain?
Hidup yang berarti bukan berarti hidup tanpa masalah. Hidup yang berarti adalah hidup yang tetap berjalan bersama Yesus, baik dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam keberhasilan maupun pergumulan.
IV. PENUTUP: TANPA YESUS, APA ARTI SEMUA YANG KITA MILIKI?
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Hari ini kita telah belajar bahwa tanpa Yesus, hidup kita dapat kehilangan arah. Kita juga belajar bahwa seseorang mungkin memiliki banyak hal di dunia, tetapi semua itu tidak dapat menggantikan keselamatan dan kehidupan yang benar di hadapan Allah.
Karena itu, marilah kita kembali kepada perkataan Rasul Paulus dalam Filipi 1:21:
“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Paulus mengerti bahwa arti hidup bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, melainkan oleh siapa yang menjadi pusat kehidupan kita.
Saudara, jika hari ini kita masih diberi napas kehidupan, itu berarti masih ada kesempatan untuk memperbaiki langkah, memulihkan hubungan dengan Tuhan, mengampuni sesama, membangun keluarga dalam iman, dan melakukan kehendak-Nya.
Jika selama ini kita terlalu sibuk mengejar dunia, mari kembali mengutamakan Tuhan.
Jika selama ini kita mengandalkan kekuatan sendiri, mari belajar berserah kepada-Nya.
Jika selama ini kita merasa jauh dari Tuhan, jangan biarkan rasa bersalah membuat kita semakin menjauh. Datanglah kepada Yesus dengan hati yang bertobat dan iman yang sungguh-sungguh.
Ingat, kekayaan tidak dapat menggantikan Kristus. Jabatan tidak dapat menggantikan Kristus. Popularitas tidak dapat menggantikan Kristus. Bahkan seluruh dunia tidak dapat menggantikan nilai keselamatan yang kita terima melalui Dia.
Sebab, hidup tanpa Yesus mungkin terlihat berhasil di mata manusia, tetapi hidup bersama Yesus memberikan arah, pengharapan, dan tujuan yang kekal.
Mari kita tutup khotbah ini dengan tiga pertanyaan untuk direnungkan:
*Jika hari ini Tuhan memeriksa hati kita, apakah Yesus benar-benar menjadi pusat kehidupan kita?
*Apakah kita sedang mengejar berkat Tuhan, atau justru membiarkan berkat dunia menjauhkan kita dari Tuhan?
*Jika perjalanan hidup kita berakhir, apakah kita telah menggunakan waktu yang Tuhan berikan untuk hidup dalam iman, kasih, dan ketaatan kepada-Nya?
Kiranya kita semua dapat berkata dengan iman yang sungguh-sungguh:
“Tuhan Yesus, Engkaulah arti seumur hidup. Aku tidak mau hanya mengejar apa yang dunia tawarkan. Aku mau hidup dalam kehendak-Mu, berjalan dalam tuntunan-Mu, dan memakai seluruh kehidupanku untuk memuliakan nama-Mu.”
Amin. Tuhan Yesus mengantarkan kita semua.
V. DOA PENUTUP
Bapa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas firman-Mu yang telah kami dengar pada hari ini.
Tuhan, ampunilah kami jika selama ini kami lebih mengutamakan dunia daripada Engkau. Ampunilah kami jika kami terlalu sibuk mengejar harta, jabatan, keberhasilan, dan keinginan pribadi sehingga kami melupakan kehendak-Mu.
Tuhan Yesus, jadilah pusat kehidupan kami. Tuntunlah setiap langkah kami agar tidak menyimpang dari jalan-Mu. Berikan kami hikmat untuk membedakan apa yang benar dan salah, kekuatan untuk menolak godaan dunia, serta hati yang setia melakukan kehendak-Mu.
Ajarlah kami menggunakan berkat yang Engkau percayakan dengan penuh tanggung jawab. Biarlah keluarga kami, pekerjaan kami, pelayanan kami, dan seluruh kehidupan kami menjadi bukti yang memuliakan nama-Mu.
Ketika kami menghadapi kesulitan, kuatkan iman kami. Ketika kami mengalami keberhasilan, jagalah hati kami agar tetap rendah hati. Ketika kami merasa lemah, ingatkan kami bahwa pengharapan kami ada di dalam Engkau.
Biarlah hidup sepanjang kami, kata Rasul Paulus menjadi kesaksian iman kami: bahwa hidup kami adalah Kristus dan keberadaan seluruh kami hanya untuk kemuliaan nama-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah dan Tuhan kami, kami berdoa dan mengucap syukur.
Amin.



Leave a Comment