KHOTBAH MINGGU
Minggu, 25 Oktober 2026
Pelayan Firman: Ps. Illen Leatemia, S.Th.
Nas Alkitab: Yudas 1:17–21
PENDAHULUAN: JANGAN GOYAH DI TENGAH ZAMAN YANG SULIT
Shalom! Salam sejahtera bagi kita semua di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Jemaat Tuhan yang terkasih,
Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena pada hari ini kita kembali diberikan kesempatan untuk datang beribadah, memuji nama Tuhan, mendengarkan firman-Nya, dan memperbarui komitmen iman kita kepada Yesus Kristus.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, tema firman Tuhan pada hari ini adalah “Tetap Teguh di Akhir Zaman Ini.”
Mengapa kita perlu berbicara tentang keteguhan iman? Karena kita hidup dalam zaman yang penuh tantangan. Kita diperhadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan, perubahan nilai-nilai moral, konflik antarmanusia, godaan dunia, serta berbagai ajaran yang dapat melemahkan iman kita kepada Tuhan.
Bahkan, tidak sedikit orang yang secara fisik masih datang ke gereja, tetapi secara rohani mulai menjauh dari Tuhan. Masih beribadah, tetapi kehilangan sukacita. Masih melayani, tetapi mulai kehilangan kasih. Masih membaca Alkitab, tetapi tidak lagi memberikan ruang bagi firman Tuhan untuk mengubah kehidupannya.
Karena itu, kita harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah iman kita tetap teguh ketika menghadapi masalah? Apakah kita tetap setia ketika doa-doa kita belum dijawab? Apakah kita tetap mengasihi Tuhan ketika keadaan tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita?
Tuhan Yesus sendiri memberikan sebuah pertanyaan yang sangat serius dalam Lukas 18:8:
“Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
Pertanyaan ini mengajak kita untuk memeriksa kehidupan rohani kita. Bukan sekadar apakah kita mengetahui tentang Tuhan, tetapi apakah kita sungguh-sungguh hidup dalam iman kepada-Nya.
Saudara, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus menyadari bahwa firman Tuhan akan digenapi. Believe it or not, Jesus is coming!
Kita tidak dipanggil untuk hidup dalam ketakutan terhadap akhir zaman. Sebaliknya, kita dipanggil untuk berjaga-jaga, berdoa, hidup dalam kekudusan, dan tetap setia kepada Kristus.
Persoalannya bukan hanya kapan Tuhan datang, tetapi apakah kita tetap setia ketika Dia datang.
I. MEMAHAMI PESAN SURAT YUDAS
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Sebelum kita masuk lebih jauh ke dalam Yudas 1:17–21, kita perlu memahami latar belakang surat ini.
Surat Yudas ditulis oleh Yudas, yang memperkenalkan dirinya sebagai hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus. Dalam suratnya, Yudas menjelaskan bahwa ia sebenarnya sangat ingin menulis tentang keselamatan yang menjadi milik bersama orang-orang percaya.
Namun, keadaan yang mendesak membuatnya mengarahkan perhatian kepada persoalan lain. Ada orang-orang yang menyusup ke tengah jemaat dan membawa pengajaran yang menyesatkan. Mereka mengancam kehidupan rohani umat Tuhan dan berpotensi merusak iman yang telah diterima oleh jemaat.
Karena itulah Yudas mendesak orang-orang percaya untuk berjuang mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada mereka.
Dalam Yudas 1:17–18, Yudas mengingatkan jemaat agar mengingat perkataan yang telah disampaikan oleh para rasul Tuhan Yesus Kristus. Mereka telah memperingatkan bahwa pada zaman akhir akan muncul orang-orang yang mengejek dan hidup menurut hawa nafsu mereka yang fasik.
Peringatan ini bukan untuk membuat jemaat ketakutan, melainkan supaya mereka waspada dan tidak mudah disesatkan.
Saudara-saudara,
Peringatan yang disampaikan dari mimbar gereja juga harus membawa kita semakin dekat kepada Tuhan. Firman Tuhan bukan sekadar untuk didengar, tetapi harus diterima, direnungkan, dan dilakukan.
Jangan sampai kita hanya menjadi pendengar firman, tetapi tidak menjadi pelaku firman.
Jangan sampai kita begitu sibuk memperhatikan kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa kehidupan kita sendiri.
Jangan sampai kita mengetahui banyak ayat Alkitab, tetapi kehilangan kasih, kerendahan hati, dan kesetiaan kepada Tuhan.
Yudas menunjukkan bahwa ancaman terhadap iman tidak selalu datang dari luar gereja. Ada juga pengaruh yang dapat muncul di tengah komunitas orang percaya.
Karena itu, kita harus berhati-hati terhadap ajaran yang menyimpangkan kebenaran, sikap yang memecah belah jemaat, dan kehidupan yang dikendalikan oleh hawa nafsu.
Di tengah zaman yang penuh penyesatan, kita membutuhkan iman yang berakar kuat di dalam Kristus.
Lalu, bagaimana kita dapat tetap teguh dalam iman sampai akhir?
Yudas 1:20–21 memberikan tiga nasihat penting bagi kehidupan kita.
II. BANGUNLAH HIDUP DI ATAS DASAR IMAN YANG BENAR
Yudas 1:20a: “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci.”
Saudara-saudara yang terkasih,
Nasihat pertama adalah membangun kehidupan kita di atas dasar iman yang benar.
Dalam membangun sebuah rumah, fondasi merupakan bagian yang sangat penting. Rumah yang terlihat indah belum tentu kuat apabila fondasinya tidak kokoh. Ketika badai datang, bangunan yang tidak memiliki dasar yang kuat akan mudah mengalami kerusakan.
Demikian juga dengan kehidupan rohani kita.
Kita tidak dapat membangun iman hanya berdasarkan perasaan. Hari ini kita merasa sukacita, besok kita merasa kecewa. Hari ini kita bersemangat melayani, besok kita mundur karena tersinggung.
Jika iman hanya bergantung pada keadaan, kita akan mudah goyah ketika menghadapi persoalan.
Karena itu, kehidupan kita harus dibangun di atas dasar firman Tuhan dan iman kepada Yesus Kristus.
Dalam 1 Petrus 1:24–25, kita diingatkan bahwa manusia dan segala kemuliaannya seperti rumput dan bunga rumput yang akan layu, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.
Segala sesuatu di dunia ini dapat berubah. Jabatan dapat berubah. Kekayaan dapat berkurang. Kesehatan dapat menurun. Manusia dapat mengecewakan kita. Namun, firman Tuhan tetap teguh untuk selama-lamanya.
Kolose 2:7 juga menasihati kita agar berakar di dalam Kristus, dibangun di atas Dia, dan bertambah teguh dalam iman.
Artinya, kita tidak cukup hanya mengenal Tuhan dari cerita orang lain. Kita harus memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus.
A. Iman yang benar berpusat kepada Kristus
Roma 10:17 menyatakan bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Semakin kita mendengar, membaca, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan, semakin kita memiliki dasar untuk mengenal kehendak-Nya.
Namun, iman bukan sekadar mengetahui ayat-ayat Alkitab. Iman yang sejati membawa perubahan dalam kehidupan.
Mari kita melihat beberapa contoh dalam Alkitab.
Pertama, Saulus yang menjadi Paulus.
Saulus dahulu menganiaya jemaat Tuhan. Namun, ketika ia mengalami perjumpaan dengan Yesus Kristus dalam perjalanan menuju Damsyik, kehidupannya berubah.
Orang yang dahulu menganiaya pengikut Kristus kemudian menjadi pemberita Injil yang berani.
Perjumpaan dengan Kristus mengubah arah hidupnya.
Kedua, Zakheus.
Dalam Lukas 19, kita membaca tentang Zakheus, seorang kepala pemungut cukai yang ingin melihat Yesus.
Ketika Yesus datang ke rumahnya, perjumpaan itu membawa perubahan nyata. Zakheus menyatakan kesediaannya memberikan sebagian hartanya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang pernah diperasnya.
Zakheus tidak hanya mengatakan bahwa ia percaya. Ia menunjukkan perubahan melalui tindakannya.
Ketiga, perempuan yang kedapatan berbuat zina.
Dalam Yohanes 8:1–11, Yesus tidak menghukum perempuan itu seperti yang dituntut oleh orang-orang yang membawanya. Namun, Yesus juga menasihatinya agar tidak berbuat dosa lagi.
Kasih karunia Tuhan bukan alasan untuk terus hidup dalam dosa. Kasih karunia membawa kita kepada pertobatan dan kehidupan yang baru.
Saudara-saudara,
Kita pun membutuhkan perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus. Bukan hanya mengenal-Nya melalui kebiasaan keluarga, bukan hanya karena sejak kecil kita pergi ke gereja, tetapi karena kita sungguh-sungguh menyerahkan hidup kepada-Nya.
B. Jangan membangun iman di atas manusia
Manusia dapat mengecewakan, tetapi Kristus tetap setia.
Jangan meninggalkan Tuhan hanya karena kecewa terhadap seorang pelayan Tuhan. Jangan berhenti beribadah hanya karena pernah disakiti oleh seseorang di gereja.
Belajarlah membedakan antara kelemahan manusia dan kesetiaan Tuhan.
Kita menghormati pemimpin rohani, tetapi dasar iman kita tetap Yesus Kristus.
Jemaat yang kuat bukanlah jemaat yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan jemaat yang tetap berdiri karena fondasi imannya adalah Kristus.
Karena itu, bangunlah kehidupan rohani melalui doa, pembacaan firman, persekutuan, ketaatan, dan pertobatan yang sungguh-sungguh.
Jangan menunggu badai datang baru mencari fondasi. Bangunlah iman kita setiap hari!
III. HARUS BANYAK BERDOA DI DALAM ROH KUDUS
Yudas 1:20b: “Dan berdoalah dalam Roh Kudus.”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Nasihat kedua adalah berdoa dalam Roh Kudus.
Kita hidup dalam zaman yang penuh tekanan. Ada persoalan keluarga, pekerjaan, ekonomi, pelayanan, kesehatan, pendidikan anak-anak, dan berbagai pergumulan lainnya.
Kadang-kadang kita merasa kuat menghadapi semuanya. Namun, ada saatnya kita menjadi lelah, kehilangan semangat, bahkan tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Pada saat seperti itulah kita harus kembali kepada Tuhan melalui doa.
Doa bukan sekadar kegiatan keagamaan. Doa adalah persekutuan dengan Allah, saat kita datang kepada-Nya dengan iman, kerendahan hati, pengharapan, dan penyerahan diri.
A. Doa membuat kita semakin mengenal kehendak Tuhan
Yesus mengajarkan dalam Doa Bapa Kami:
“Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
Perhatikan, saudara-saudara. Dalam doa, kita bukan hanya meminta Tuhan melakukan apa yang kita inginkan. Kita juga belajar menyerahkan keinginan kita kepada kehendak-Nya.
Kadang-kadang kita meminta Tuhan mengubah keadaan, tetapi Tuhan terlebih dahulu membentuk hati kita.
Kita meminta Tuhan membuka jalan, tetapi Tuhan mengajar kita bersabar.
Kita meminta jawaban yang cepat, tetapi Tuhan mengajar kita untuk tetap percaya dalam proses.
Semakin kita berdoa dengan sungguh-sungguh, semakin kita belajar mengenal hati Tuhan dan mengikuti kehendak-Nya.
B. Doa harus menjadi kebutuhan setiap hari
Saudara-saudara,
Bangsa ini membutuhkan doa. Maluku membutuhkan doa. Kota Ambon dan seluruh daerah kita membutuhkan doa.
Pekerjaan dan usaha kita membutuhkan doa. Rumah tangga kita membutuhkan doa. Masa depan anak-anak kita membutuhkan doa. Anak cucu kita membutuhkan doa.
Namun, doa bukan berarti kita berhenti bekerja atau mengabaikan tanggung jawab. Sebaliknya, doa memberi kita kekuatan untuk melakukan bagian kita dengan bijaksana dan bertanggung jawab.
Kita berdoa, lalu bekerja dengan jujur.
Kita berdoa, lalu mendidik anak-anak dengan penuh tanggung jawab.
Kita berdoa, lalu membangun rumah tangga dengan kasih dan kesetiaan.
Kita berdoa, lalu melayani Tuhan dengan hati yang tulus.
Doa dan tindakan yang benar harus berjalan bersama.
C. Yesus memberikan teladan dalam doa
Sebelum menghadapi penyaliban, Yesus berdoa di Taman Getsemani. Dalam pergumulan yang sangat berat, Ia menyerahkan diri kepada kehendak Bapa.
Yesus berkata dalam Lukas 22:42:
“Janganlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
Inilah salah satu teladan doa yang harus kita pelajari.
Doa bukan hanya tentang meminta pertolongan, tetapi juga tentang kesediaan untuk taat kepada Tuhan, sekalipun jalan yang harus ditempuh tidak mudah.
Ibrani 7:25 juga mengingatkan bahwa Yesus hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara bagi orang-orang yang datang kepada Allah melalui Dia.
Betapa besar kasih Tuhan kepada kita!
D. Doa orang benar besar kuasanya
Yakobus 5:16 berkata bahwa doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Karena itu, jangan meremehkan doa yang dilakukan dengan iman dan ketulusan.
Jangan berpikir bahwa hanya doa pendeta yang berkuasa. Jangan berpikir bahwa hanya doa majelis atau pemimpin pujian yang didengar Tuhan.
Setiap orang percaya dipanggil untuk hidup dalam hubungan yang benar dengan Tuhan dan berdoa dengan iman.
Namun, kita juga harus memahami bahwa kuasa doa bukan berarti kita dapat memaksa Tuhan memenuhi semua keinginan kita. Tuhan tetap berdaulat dan mengetahui apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya.
Kadang-kadang Tuhan menjawab dengan memberikan apa yang kita minta. Kadang-kadang Dia mengubah keadaan. Dan kadang-kadang Dia memberikan kekuatan kepada kita untuk melewati keadaan yang tidak mudah.
Karena itu, jangan berhenti berdoa hanya karena jawaban belum datang.
Semakin kita bertekun dalam doa, semakin kita belajar berjalan bersama Tuhan, bahkan ketika kita belum melihat jalan keluar.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, tetaplah berdoa! Jangan hanya berdoa ketika menghadapi masalah. Berdoalah ketika keadaan baik, ketika keadaan sulit, ketika kita bersukacita, dan ketika kita menangis.
Jadikan doa sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
IV. HIDUPLAH SENANTIASA DI DALAM KASIH ALLAH
Yudas 1:21: “Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.”
Saudara-saudara yang terkasih,
Nasihat ketiga adalah memelihara kehidupan kita di dalam kasih Allah.
Perhatikan bahwa Yudas tidak hanya berbicara tentang iman dan doa. Ia juga berbicara tentang kasih.
Mengapa kasih begitu penting?
Karena seseorang dapat terlihat kuat secara rohani, tetapi jika hidupnya dipenuhi kebencian, kesombongan, iri hati, dan keinginan untuk menjatuhkan orang lain, ada sesuatu yang perlu diperiksa dalam kehidupan imannya.
Kita tidak dapat berbicara tentang keteguhan iman sambil sengaja memelihara kebencian terhadap sesama.
Kita tidak dapat mengaku mengasihi Tuhan, tetapi terus-menerus merendahkan orang lain.
Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita menantikan kedatangan Kristus, tetapi tidak mau mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
Iman yang benar harus terlihat melalui kasih.
A. Kasih bukan hanya perkataan, tetapi tindakan
Dalam 1 Korintus 13:4–7, Rasul Paulus menjelaskan bahwa kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Firman Tuhan ini mengajak kita memeriksa diri sendiri.
Ketika seseorang menyinggung perasaan kita, bagaimana respons kita?
Ketika orang lain berhasil, apakah kita turut bersukacita atau justru iri hati?
Ketika kita memiliki kesempatan untuk membalas kejahatan, apakah kita memilih membalas atau menyerahkan persoalan kepada Tuhan sambil tetap melakukan yang benar?
Ketika kita berbeda pendapat dengan saudara seiman, apakah kita mencari jalan untuk membangun atau justru memperbesar perpecahan?
Kasih bukan berarti kita membenarkan semua perbuatan orang lain. Kasih juga tidak berarti kita harus membiarkan ketidakadilan atau mengabaikan kebenaran.
Kasih berarti kita tetap menghormati martabat sesama, berkata benar dengan cara yang benar, mengampuni, dan berusaha membawa orang kepada kebaikan.
Bahkan, menghargai orang lain, mendengarkan dengan sabar, tidak mempermalukan sesama, dan menolong orang yang sedang mengalami kesulitan merupakan bentuk kasih yang nyata.
B. Mengasihi orang yang membenci kita
Ini bukan perkara mudah.
Mengasihi orang yang baik kepada kita mungkin terasa ringan. Namun, bagaimana jika orang itu pernah menyakiti kita? Bagaimana jika ia memfitnah kita, mengecewakan kita, atau memperlakukan kita dengan tidak adil?
Di sinilah kita membutuhkan kasih karunia Tuhan.
Ketika Yesus disalibkan, Ia berdoa:
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34).
Yesus memberikan teladan tentang pengampunan di tengah penderitaan yang sangat berat.
Saudara-saudara, kita tidak mungkin menjalani kehidupan seperti Kristus hanya dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus.
Ada orang yang mungkin berkata, “Saya tidak bisa mengampuni karena luka saya terlalu dalam.”
Tuhan mengetahui luka kita. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, kita dapat membawa luka itu kepada Tuhan dan meminta-Nya menolong kita mengambil langkah menuju pengampunan.
Pengampunan bukan berarti kejahatan dianggap benar. Pengampunan juga tidak selalu berarti hubungan harus langsung dipulihkan tanpa pertobatan atau perubahan.
Tetapi kita tidak boleh membiarkan kebencian menguasai hati kita sampai kita kehilangan damai sejahtera dan sukacita dalam Tuhan.
C. Jangan membiarkan ego dan hawa nafsu menguasai kehidupan
Dalam 2 Timotius 3:1–5, Paulus memperingatkan bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri, menjadi hamba uang, membual, menyombongkan diri, dan tidak mengasihi.
Peringatan ini sangat relevan untuk kita renungkan.
Jangan sampai kita lebih mencintai uang daripada kebenaran.
Jangan sampai kita lebih mengejar jabatan daripada kesetiaan.
Jangan sampai kita lebih mementingkan popularitas daripada karakter.
Jangan sampai kita lebih sibuk mencari kesalahan orang lain daripada memperbaiki kehidupan sendiri.
Jangan sampai pelayanan yang seharusnya menjadi persembahan bagi Tuhan berubah menjadi tempat untuk mencari pujian manusia.
Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan di depan orang banyak. Tuhan juga melihat hati kita ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan.
Karena itu, peliharalah diri kita dalam kasih Allah.
D. Kasih harus bertumbuh di dalam Kristus
Yesus berkata dalam Yohanes 15:5:
“Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Saudara-saudara,
Kita tidak dapat menghasilkan buah rohani yang sejati jika kita memisahkan diri dari Kristus.
Kita membutuhkan Kristus setiap hari.
Kita membutuhkan-Nya ketika melayani, ketika bekerja, ketika membangun rumah tangga, ketika menghadapi konflik, dan ketika mengambil keputusan.
Kita membutuhkan-Nya ketika hati kita terluka, ketika kita merasa lelah, dan ketika kita menghadapi godaan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan.
Tetaplah tinggal di dalam Kristus. Izinkan firman-Nya membentuk pikiran kita, kasih-Nya memenuhi hati kita, dan Roh Kudus menuntun tindakan kita.
Orang yang sungguh-sungguh menantikan kedatangan Tuhan bukan hanya berbicara tentang akhir zaman, tetapi juga menunjukkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
V. MENGAPA KITA HARUS TETAP TEGUH SAMPAI AKHIR?
Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Kita sudah mempelajari tiga nasihat dari Yudas 1:20–21: membangun kehidupan di atas dasar iman yang benar, berdoa dalam Roh Kudus, dan memelihara diri dalam kasih Allah.
Sekarang kita perlu bertanya, mengapa semua ini begitu penting?
1. Karena ada pengaruh yang dapat melemahkan iman
Tidak semua orang yang berbicara tentang Tuhan menyampaikan kebenaran dengan tepat.
Karena itu, kita harus menguji setiap pengajaran berdasarkan firman Tuhan. Jangan mudah percaya hanya karena seseorang berbicara dengan meyakinkan, memiliki banyak pengikut, atau terlihat hebat di mata manusia.
Belajarlah mengenali ajaran yang benar dan jangan mudah terbawa arus.
2. Karena kita diperhadapkan dengan semangat perpecahan
Ada orang yang lebih suka membangun permusuhan daripada perdamaian. Ada yang menyebarkan kabar yang belum tentu benar. Ada pula yang menggunakan kata-kata untuk menjatuhkan sesamanya.
Jemaat Tuhan harus berhati-hati agar tidak ikut terseret dalam sikap seperti itu.
Kita harus berani mempertahankan kebenaran, tetapi tetap melakukannya dengan kasih dan hikmat.
3. Karena hawa nafsu dapat menjauhkan manusia dari Tuhan
Godaan dunia tidak selalu datang dalam bentuk yang terlihat buruk. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk keinginan yang tampaknya wajar, tetapi kemudian menguasai seluruh kehidupan.
Keinginan untuk memiliki lebih banyak dapat berubah menjadi keserakahan. Keinginan untuk dihargai dapat berubah menjadi kesombongan. Keinginan untuk menang dapat berubah menjadi kebiasaan menjatuhkan orang lain.
Karena itu, kita harus senantiasa memeriksa hati dan menyerahkan keinginan kita kepada Tuhan.
4. Karena kita sedang menantikan kedatangan Kristus
Kita tidak mengetahui hari dan saat kedatangan Tuhan. Karena itu, tugas kita bukan menebak-nebak tanggal, melainkan hidup dalam kesiapan rohani.
Berjaga-jaga berarti tetap setia.
Berdoa berarti terus membangun hubungan dengan Tuhan.
Bertobat berarti tidak sengaja memelihara dosa.
Mengasihi berarti menghadirkan karakter Kristus dalam hubungan dengan sesama.
Melayani berarti menggunakan hidup kita untuk memuliakan Tuhan.
Jangan menunggu keadaan menjadi sempurna baru kita setia. Jangan menunggu semua masalah selesai baru kita melayani. Jangan menunggu tua baru kita sungguh-sungguh mencari Tuhan.
Hari ini adalah kesempatan untuk kembali kepada-Nya.
VI. TIGA PERTANYAAN UNTUK MEMERIKSA DIRI
Sebelum kita mengakhiri firman Tuhan, izinkan saya mengajak setiap orang memeriksa kehidupan rohaninya.
Pertanyaan pertama: Apakah iman saya masih berakar di dalam Kristus?
Apakah saya masih membaca dan melakukan firman Tuhan? Apakah saya masih percaya ketika doa belum dijawab? Apakah saya tetap setia sekalipun keadaan tidak sesuai dengan harapan?
Pertanyaan kedua: Apakah saya masih memiliki kehidupan doa yang sungguh-sungguh?
Apakah saya hanya mencari Tuhan ketika menghadapi masalah? Apakah saya memberikan waktu untuk bersekutu dengan-Nya? Apakah saya bersedia menyerahkan kehendak saya kepada kehendak Tuhan?
Pertanyaan ketiga: Apakah kasih Kristus masih nyata dalam kehidupan saya?
Apakah saya mudah mengampuni? Apakah saya menjaga perkataan? Apakah saya menghargai orang lain? Apakah kehadiran saya membawa damai atau justru memperbesar perpecahan?
Saudara-saudara,
Jangan hanya memikirkan jawaban untuk orang lain. Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini di hadapan Tuhan.
Sebab, yang paling penting bukanlah bagaimana kita terlihat di hadapan manusia, melainkan bagaimana keadaan hati kita di hadapan Allah.
VII. PENUTUP: TETAP TEGUH, TUHAN SANGGUP MENGUATKAN KITA
Jemaat Tuhan yang terkasih,
Kita hidup di tengah zaman yang penuh tantangan. Kita tidak dapat mengendalikan semua keadaan yang terjadi di sekitar kita. Kita tidak dapat mencegah semua orang mengecewakan kita. Kita tidak dapat menjamin bahwa perjalanan hidup kita selalu mudah.
Namun, kita dapat memilih untuk tetap berpegang kepada Tuhan.
Ketika dunia berubah, firman Tuhan tetap teguh.
Ketika manusia mengecewakan, Kristus tetap setia.
Ketika kekuatan kita terbatas, kita dapat datang kepada Tuhan dalam doa.
Ketika hati kita terluka, kasih karunia Tuhan sanggup menolong kita untuk mengampuni dan melangkah kembali.
Saudara-saudara, mungkin ada di antara kita yang hari ini sedang mengalami pergumulan berat. Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga. Ada yang sedang memikirkan masa depan anak-anak. Ada yang mengalami tekanan ekonomi. Ada yang sedang bergumul dalam pelayanan. Ada pula yang secara lahiriah terlihat kuat, tetapi sesungguhnya sedang berjuang mempertahankan iman.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: Jangan menyerah! Jangan meninggalkan Kristus! Jangan membiarkan persoalan membuat kita kehilangan pengharapan!
Bangunlah kehidupan kita di atas dasar iman yang benar.
Berdoalah senantiasa di dalam Roh Kudus.
Peliharalah diri kita di dalam kasih Allah.
Dan sambil menantikan rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, hiduplah dengan setia sampai akhir.
Kita mungkin pernah jatuh, tetapi jangan memilih untuk tetap tinggal dalam kejatuhan. Bangkitlah dan datanglah kembali kepada Tuhan.
Kita mungkin pernah gagal, tetapi kegagalan bukan alasan untuk berhenti bertumbuh.
Kita mungkin pernah terluka, tetapi luka bukan alasan untuk membiarkan kebencian menguasai hati.
Kita mungkin menghadapi masa depan yang tidak pasti, tetapi kita dapat melangkah dengan pengharapan karena hidup kita berada di dalam tangan Tuhan.
Jangan hanya kuat pada awal perjalanan. Tetaplah teguh sampai akhir!
Jangan hanya bersemangat ketika keadaan baik. Tetaplah setia ketika keadaan sulit!
Jangan hanya berbicara tentang kedatangan Kristus. Hiduplah setiap hari sebagai orang yang sungguh-sungguh menantikan-Nya!
Kiranya ketika Tuhan datang, Dia mendapati kita tetap beriman, tekun berdoa, hidup dalam kasih, dan setia melakukan kehendak-Nya.
Ingatlah, saudara-saudara:
Iman yang berakar di dalam Kristus akan menolong kita bertahan. Doa yang tekun akan menguatkan persekutuan kita dengan Tuhan. Kasih yang nyata akan menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh hidup di dalam Dia.



Leave a Comment