MENGENAKAN RUPA DAN GAMBAR ALLAH

dmsd1 Avatar

KHOTBAH MINGGU

Minggu, 18 Oktober 2026

MENGENAKAN RUPA DAN GAMBAR ALLAH

Ps. David Taihutu

Nas Utama: Efesus 2:8-10

Ayat pendukung: Kejadian 1:26–27, Galatia 2:20, Yohanes 15:1–8, dan Yesaya 51:1–3.

PENDAHULUAN

Shalom, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan!

Puji Tuhan! Hari ini kita kembali berkumpul dalam hadirat Tuhan untuk mendengarkan firman-Nya. Saya percaya bahwa setiap kita yang datang mendengarkan bukan sekadar ingin menjalankan rutinitas keagamaan, tetapi kita datang untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang mampu mengubah kehidupan kita.

Saudara-saudara, tema khotbah kita pada hari ini adalah “Mengenakan Rupa dan Gambar Allah.”

Pertanyaannya, bagaimana kita sebagai orang percaya dapat mengenakan rupa dan gambar Allah di dalam kehidupan kita sehari-hari?

Apakah cukup dengan datang ke gereja setiap hari Minggu? Apakah cukup dengan mengangkat tangan ketika memuji Tuhan, berdoa, membaca Alkitab, atau bahkan mengetahui banyak ayat firman Tuhan?

Tentu tidak sederhana itu!

Sebab mengenakan rupa dan gambar Allah bukan hanya tentang apa yang kita lakukan ketika berada di dalam gereja, melainkan tentang siapa kita ketika berada di luar gereja. Bagaimana kita memperlakukan keluarga, bagaimana kita berbicara kepada sesama, bagaimana kita menghadapi suatu persoalan, bagaimana kita mengendalikan amarah, dan bagaimana kita tetap menyayangi ketika orang lain tidak memperlakukan kita dengan baik.

Kehidupan kita harus menampilkan siapa yang tinggal di dalam kita. Amin!

Mari kita membaca Efesus 2:8–10. Rasul Paulus mengingatkan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia melalui iman, bukan karena hasil usaha kita sendiri atau karena perbuatan kita. Namun ayat 10 menegaskan bahwa kita adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya.

Dari firman ini, ada tiga kebenaran penting yang harus kita pahami.

I. KITA ADALAH BUATAN ALLAH

Efesus 2:10a: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus…”

Saudara-saudara, perhatikan baik-baik kata firman Tuhan ini: Kita ini buatan Allah!

Amin!

Kita bukan manusia yang hadir tanpa tujuan. Kita bukan kehidupan yang tidak memiliki nilai. Kita bukan pribadi yang diciptakan hanya untuk menjalani hari demi hari, bekerja, mencari uang, membangun rumah, membesarkan anak, lalu menyelesaikannya.

Kita adalah buatan Allah.

 1\. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah

Kejadian 1:26–27 menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia berdasarkan gambar dan rupa-Nya.

Artinya, sejak awal penciptaan, manusia memiliki kedudukan yang istimewa dalam rencana Allah. Manusia dipanggil untuk mencerminkan karakter-Nya dan menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan-Nya.

Namun, gambar Allah tidak berarti bahwa tubuh fisik kita menyerupai bentuk tubuh Allah. Kita diciptakan untuk mencerminkan sifat-sifat-Nya dalam kehidupan, seperti kasih, kekudusan, kebenaran, keadilan, dan kesetiaan.

Oleh karena itu, ketika kita berkata bahwa kita adalah buatan Allah, kita sedang mengakui bahwa hidup kita memiliki Pencipta, memiliki tujuan, dan berada dalam tanggung jawab kepada-Nya.

Saudara-saudara, kalau kita sungguh-sungguh memahami bahwa kita adalah buatan Allah, kita tidak boleh sembarangan menjalani kehidupan ini.

Kita tidak boleh berkata, “Ini hidup saya, jadi saya bebas melakukan apa saja.”

Tidak! Hidup kita adalah pemberian Tuhan. Kita harus menggunakannya untuk memuliakan Dia.

2\. Kita terbentuk melalui proses bersama Kristus

Efesus 2:10 bukan hanya mengatakan bahwa kita adalah buatan Allah, tetapi juga bahwa kita diciptakan di dalam Kristus Yesus.

Di sinilah kita melihat pentingnya kehidupan baru di dalam Kristus.

Ketika seseorang percaya kepada Yesus, Allah tidak hanya bersinggungan untuk memperoleh dosa, tetapi juga untuk mengalami pembaruan hidup. Pikiran diperbarui, hati dibentuk, karakter diubah, dan keinginan belajar tunduk kepada firman Tuhan.

Proses ini tidak selalu berlangsung dalam satu malam.

Ada orang yang dulunya mudah marah, tetapi sekarang mulai belajar mengendalikan diri. Ada orang yang dahulu suka membalas kejahatan, tetapi sekarang mulai belajar mengampuni. Ada orang yang dahulu hidup untuk dirinya sendiri, namun kini mulai memperhatikan kebutuhan orang lain.

Itulah proses pembentukan!

Tuhan tidak hanya ingin kita menerima berkat-Nya; Tuhan juga ingin membentuk karakter kita agar semakin menyerupai Kristus.

Saudara-saudara, jangan menyerah ketika Tuhan sedang memproses kehidupan kita. Jangan menganggap setiap teguran firman sebagai penolakan. Jangan menganggap setiap proses pembentukan sebagai tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita.

Selama kita mau datang kepada-Nya, mendengar firman-Nya, mendamaikan, dan belajar taat, kita memberi ruang bagi pekerjaan-Nya untuk mengubah hidup kita.

3\. Identitas kita harus berpusat pada Kristus

Galatia 2:20 menyatakan bahwa Paulus telah disalibkan bersama Kristus dan bahwa Kristus hidup di dalam dirinya.

Ini bukan berarti Paulus kehilangan kepribadiannya. Maksudnya, pusat kehidupan dan arah hidupnya telah berubah. Ia tidak lagi menjadikan keinginan dirinya sebagai penguasa tertinggi, melainkan hidup oleh iman kepada Anak Allah.

Demikian juga dengan kita.

Sebelum mengenal Kristus, mungkin kita selalu ingin menang sendiri. Kita ingin dihargai, dipuji, dan didahulukan. Kita mudah memaku ketika orang lain tidak mengikuti keinginan kita.

Tetapi ketika Kristus menjadi pusat kehidupan kita, cara berpikir kita mulai berubah.

Kita belajar bertanya, “Apakah perkataan saya menyenangkan hati Tuhan? Apakah tindakan saya mencerminkan kasih Kristus? Apakah keputusan saya sesuai dengan firman-Nya?”

Saudara-saudara, inilah perubahan identitas yang sesungguhnya.

Bukan lagi ego yang menguasai kita, melainkan Kristus yang menjadi pusat kehidupan kita. Amin!

II. MENGENAKAN RUPA DAN GAMBAR ALLAH BERARTI HIDUP MENYERUPAI KRISTUS

Jika kita adalah buatan Allah dan diciptakan dalam Kristus Yesus, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana rupa dan gambar Allah itu terlihat dalam kehidupan kita?

Jawabannya adalah melalui karakter dan perbuatan yang semakin menyerupai Kristus.

1\. Jangan hanya menjadi orang yang rajin beribadah, tetapi tidak mengalami perubahan hidup

Saudara-saudara, berdoa itu penting. Kita perlu datang ke rumah Tuhan, mendengarkan firman, berdoa, memuji Tuhan, dan bersekutu dengan sesama orang percaya.

Namun, kita harus memahami bahwa kehadiran di gereja tidak otomatis berarti karakter kita sudah berubah.

Seseorang bisa rajin beribadah, tetapi masih menyimpan kebencian. Seseorang dapat mengetahui banyak ayat Alkitab, namun masih menggunakan kata-katanya untuk menyakiti orang lain. Seseorang bisa mengabdi secara aktif, tetapi masih memiliki kesombongan dan keinginan untuk dipuji.

Oleh karena itu, jangan hanya bertanya, “Sudah berapa lama saya menjadi orang Kristen?”

Mari bertanya lebih dalam: “Sudahkah sejauh mana kehidupan saya berubah sejak mengenal Kristus?”

Apakah saya semakin sabar? Apakah saya semakin mencintai keluarga? Apakah saya semakin jujur? Apakah saya semakin mudah mengampuni? Apakah saya semakin rendah hati ketika ditegur?

Itulah pertanyaan yang perlu kita bawa di hadapan Tuhan.

Saudara-saudara, ibadah yang seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dan semakin bersedia diubahkan oleh firman-Nya.

Kita tidak datang beribadah hanya untuk memenuhi kewajiban, melainkan untuk mengenal Tuhan, menerima kebenaran-Nya, dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya.

2\. Mengenakan Kristus berarti menunjukkan karakter-Nya

Kristus memberikan teladan melalui kehidupan-Nya.

Ia mencintai orang-orang yang tersisih. Ia menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang menderita. Dia berbicara dalam kebenaran. Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia taat kepada kehendak Bapa.

Sekarang, mari kita melihat diri kita masing-masing.

Ketika seseorang menghina kita, apakah kita langsung membalasnya?

Ketika pasangan kita melakukan kesalahan, apakah kita hanya menyalahkan atau bersedia berbicara dengan kasih?

Ketika anak-anak melakukan kesalahan, apakah kita mendidik mereka dengan hikmat atau melampiaskan kemarahan?

Ketika kita diberi tanggung jawab di gereja, apakah kita melayani dengan tulus atau hanya ketika mendapat perhatian?

Saudara-saudara, mengenakan rupa dan gambar Allah berarti membiarkan karakter Kristus semakin nyata dalam jawaban-jawaban kita terhadap situasi tersebut.

Kita mungkin belum sempurna. Kita masih bisa melakukan kesalahan. Namun, jangan jadikan kelemahan sebagai alasan untuk terus hidup dalam dosa.

Ketika jatuh, bangkitlah. Ketika salah, memahamilah. Ketika ditegur oleh firman, belajarlah. Ketika hati mulai marah, datanglah kepada Tuhan dan mintalah pertolongan-Nya.

Orang yang hidup di dalam Kristus bukanlah orang yang tidak pernah mengalami pergumulan, melainkan orang yang terus belajar berjalan bersama Kristus di tengah pergumulan itu.

Amin!

 3\. Jangan jadikan kelemahan orang lain sebagai alasan untuk tidak bertumbuh

Yesaya 51:1 mengajak umat untuk memandang gunung batu dari mana mereka dipahat dan lubang batu di mana mereka digali.

Dalam konteksnya, firman tersebut mengingatkan umat Israel akan asal-usul mereka dan pekerjaan Allah dalam kehidupan mereka.

Dari gambaran ini, kita dapat mengambil pelajaran rohani: jangan melupakan karya Allah yang membentuk dan memelihara kehidupan kita.

Kadang-kadang, kita terlalu sibuk melihat kelemahan orang lain.

Kita melihat orang yang kurang sabar, lalu kita menghakimi. Kita melihat orang yang belum dewasa secara rohani, lalu kita merasa diri lebih baik. Kita melihat orang yang pernah jatuh, lalu kita menganggap dirinya tidak mungkin berubah.

Padahal, kita pun masih membutuhkan kasih karunia Tuhan.

Saudara-saudara, jangan mengukur pertumbuhan rohani kita hanya dengan membandingkan diri terhadap orang lain. Pandanglah Kristus sebagai teladan kita.

Kalau kita memandang Kristus, kita akan belajar rendah hati. Jika kita memandang Kristus, kita akan menyadari bahwa kita pun membutuhkan pengampunan. Kalau kita memandang Kristus, kita akan belajar mengasihi tanpa merasa diri lebih suci daripada orang lain.

Kebenaran firman Tuhan tidak diberikan kepada kita untuk menjadi alat menghakimi sesama, melainkan untuk mencapai jalan hidup kita dan membawa kita kepada pengobatan.

Fokuslah pada pekerjaan Tuhan dalam diri kita, sambil belajar membantu orang lain yang bertumbuh dalam kasih.

III. AKU AKU AKU. KITA DICIPTAKAN DALAM KRISTUS UNTUK MENGHASILKAN BUAH

Efesus 2:10 tidak berhenti pada pernyataan bahwa kita adalah buatan Allah. Ayat itu melanjutkan bahwa kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya.

Perhatikan urutannya, saudara-saudara!

Kita diselamatkan oleh kasih karunia, bukan karena perbuatan baik kita. Tetapi setelah menerima keselamatan itu, kita dipanggil untuk hidup dalam perbuatan baik.

Perbuatan baik bukan harga yang kita bayar untuk memperoleh keselamatan; Perbuatan baik merupakan buah dari kehidupan yang telah disentuh oleh kasih karunia Allah.

1\. Keselamatan menghasilkan kehidupan yang berbuah

Dalam Yohanes 15:1–8, Tuhan Yesus menggambarkan dirinya sebagai pokok anggur dan Bapa sebagai pengusahanya. Kita dipanggil untuk tinggal di dalam Kristus agar menghasilkan buah.

Yesus menegaskan bahwa mengomel tidak dapat menghasilkan buah dari dirinya sendiri jika tidak tinggal pada pokok anggur.

Artinya, kehidupan yang berbuah tidak dapat dipisahkan dari hubungan kita dengan Kristus.

Saudara-saudara, kita tidak bisa memaksakan diri menghasilkan buah rohani hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Kita membutuhkan firman Tuhan, pertolongan Roh Kudus, doa, pertobatan, dan hubungan yang terus dipelihara dengan Kristus.

Kita dapat melihat hebatnya di depan manusia, namun Tuhan melihat kedalaman hati kita.

Kita dapat memiliki banyak kegiatan pelayanan, tetapi Tuhan juga memperhatikan bagaimana kita menjalani kehidupan ketika tidak ada orang yang melihatnya.

Oleh karena itu, jangan sibuk hanya melakukan kegiatan rohani. Bangunlah hubungan yang sungguh-sungguh dengan Tuhan.

Dengarkan firman-Nya dan lakukan. Berdoalah, bukan hanya ketika membutuhkan sesuatu, tetapi juga untuk membangun persekutuan dengan-Nya. Mintalah Roh Kudus membantu kita meninggalkan kebiasaan yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Ketika kita tinggal di dalam Kristus, hidup kita diarahkan untuk menghasilkan buah yang memuliakan Allah.

2\. Buah rohani terlihat melalui kehidupan sehari-hari

Galatia 5:22–23 menjelaskan buah Roh, yaitu kasih, kegembiraan, kedamaian sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Perhatikan bahwa buah Roh bukan sekadar penampilan luar. Buah Roh berkaitan dengan karakter yang dibentuk oleh pekerjaan Roh Kudus dalam diri orang percaya.

Mari kita melihat beberapa contoh sederhana.

* Buah kasih: kita tetap memperlakukan orang lain dengan hormat, meskipun kita tidak selalu setuju dengannya.

* Buah kesabaran: kita tidak langsung meledak dalam kemarahan ketika menghadapi masalah.

* Buah kebaikan: kami bersedia membantu orang lain tanpa selalu menuntut balasan.

* Buah kesetiaan: kita tetap memikul tanggung jawab kepada Tuhan, keluarga, dan sesama.

* Buah kelemahlembutan: kita dapat menegur dengan kasih tanpa batas martabat orang lain.

* Buah penguasaan diri: kita belajar mengendalikan kata, tindakan, dan keinginan yang dapat merusak kehidupan.

Saudara-saudara, inilah buah yang perlu kita lihat.

Jangan sampai kita dikenal sebagai orang yang rajin menyebut nama Tuhan, tetapi keluarga kita justru mengalami luka karena perkataan kita.

Jangan sampai kita dikenal aktif melayani, tetapi kita tidak mau berdamai dengan sesama.

Jangan sampai kita mengajarkan kasih sayang kepada orang lain, tetapi kita sendiri memelihara kebencian.

Mari kita memeriksa hati kita.

Apakah orang-orang yang hidup bersama kita dapat melihat kasih Kristus melalui cara kita memperlakukan mereka?

Pertanyaan ini bukan untuk membuat kita saling menghakimi, melainkan untuk membantu kita melakukan pemeriksaan diri di hadapan Tuhan.

3\. Buah kita bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk menemani orang lain

Saudara-saudara, kehidupan yang berbuah bukan semata-mata tentang memiliki banyak uang, mendapatkan kedudukan, menjadi terkenal, atau berhasil mencapai cita-cita.

Tuhan memang dapat memberikan berkat dalam berbagai bentuk, namun buah rohani tidak dapat diukur hanya dari keberhasilan materi.

Ada orang yang hidup sederhana, tetapi melalui perkataan dan tindakannya ia menguatkan banyak orang. Ada orang yang tidak memiliki kedudukan tinggi, tetapi hidupnya menjadi teladan kejujuran dan kesetiaan. Ada orang yang diam-diam membantu mereka yang membutuhkan tanpa mencari pujian.

Itulah kehidupan yang membawa dampak.

Ketika kita mengenakan karakter Kristus, orang lain dapat merasakan kasih Tuhan melalui tindakan kita.

Dalam keluarga, kita membawa kedamaian.

Dalam pekerjaan, kita menunjukkan integritas.

Dalam pelayanan, kita belajar dengan setia.

Dalam masyarakat, kita menjadi pembawa kebaikan.

Di tengah konflik, kita tidak memperkeruh keadaan, tetapi berusaha menjadi pembawa perdamaian.

Itulah salah satu cara kita melakukan pekerjaan dengan baik yang telah dipersiapkan Allah.

Saudara-saudara, tujuan kita menghasilkan buah bukan supaya manusia memuji kita, melainkan supaya nama Tuhan dimuliakan.

Kita tidak berbuah untuk membesarkan nama sendiri. Kita berbuah supaya Kristus menjadi nyata melalui kehidupan kita. Amin!

IV. JANGAN MENUNDA PERUBAHAN HIDUP

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ada satu hal yang perlu kita perhatikan.

Sering kali kita berkata, “Nanti kalau hati saya sudah tenang, saya akan melayani.”

“Nanti kalau masalah keluarga saya selesai, saya akan mengampuni.”

“Nanti jika keadaan ekonomi saya membaik, saya akan lebih banyak membantu orang lain.”

“Nanti kalau saya sudah benar-benar sempurna, barulah saya mau dipakai Tuhan.”

Pertanyaannya, sampai kapan kita akan terus berkata nanti?

Kita memang membutuhkan proses. Kita tidak boleh mengabaikan luka, pergumulan, atau kelemahan yang sedang kita hadapi. Namun, kita juga tidak boleh menjadikan semuanya sebagai alasan untuk menolak ketaatan kepada Tuhan.

Kita dapat memulai dari langkah kecil hari ini.

Kalau kita harus meminta maaf, belajarlah meminta maaf.

Kalau kita harus mengampuni, mulai membawa hati kita kepada Tuhan dan mengambil langkah menuju pengampunan.

Kalau kita selama ini berbicara kasar kepada keluarga, belajarlah menggunakan kata-kata yang membangun.

Kalau kita melihat orang yang membutuhkan bantuan, bantulah sesuai kemampuan kita.

Kalau kita memiliki tanggung jawab pelayanan, kerjakanlah dengan setia.

Jangan menunggu sampai semua keadaan menjadi sempurna untuk mulai menaati firman Tuhan.

Kita bertumbuh sambil berjalan bersama Kristus.

Tuhan tidak memanggil kita untuk menghasilkan buah dengan kekuatan kita sendiri. Ia memanggil kita untuk tinggal di dalam Dia dan hidup dalam pimpinan-Nya.

Perubahan hidup dimulai ketika kita berhenti mencari alasan dan mulai menanggapi firman Tuhan dengan ketaatan.

Amin!

V. TIGA PERTANYAAN UNTUK MEMERIKSA KEHIDUPAN KITA

Sebelum kita mengakhiri firman Tuhan pada hari ini, mari kita membawa tiga pertanyaan ini ke dalam hati masing-masing.

 1

Apakah identitas saya sungguh-sungguh berpusat pada Kristus?

Apakah saya hidup berdasarkan kehendak Tuhan, atau masih membiarkan ego, kesombongan, dan keinginan pribadi menguasai keputusan saya?

2

Apakah karakter Kristus terlihat dalam kehidupan saya?

Apakah keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekitar saya merasakan kasih sayang, kesabaran, kejujuran, dan penguasaan diri melalui kata-kata serta tindakan saya?

3

Buah apakah yang sedang saya hasilkan bagi Tuhan?

Apakah kehadiran saya membawa kedamaian, menguatkan orang lain, dan menjadi berkat, atau justru menambah luka dan perpecahan?

Saudara-saudara, jangan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini hanya berdasarkan apa yang kita inginkan. Bawalah semuanya di hadapan Tuhan dengan hati yang terbuka.

Biarlah firman-Nya menyelidiki kita, menegur kita, dan memperbarui kita.

Sebab tujuan kita bukan sekadar terlihat sebagai orang Kristen, namun sungguh-sungguh hidup sebagai murid Kristus.

PENUTUP: BIAR KRISTUS NYATA DALAM KEHIDUPAN KITA

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan!

Mari kita kembali ke Efesus 2:8–10.

Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman. Keselamatan bukan hasil kesombongan manusia atau hasil usaha kita sendiri. Semuanya merupakan pemberian Allah.

Namun, kasih karunia yang kita terima bukan alasan untuk hidup sembarangan. Sebaliknya, kasih karunia itu mengarahkan kita kepada kehidupan baru di dalam Kristus.

Kita adalah buatan Allah.

Kita diciptakan dalam Kristus Yesus.

Kita dipanggil untuk melakukan pekerjaan dengan baik.

Oleh karena itu, mengenakan rupa dan gambar Allah berarti membiarkan kehidupan kita terus terbentuk agar semakin menyerupai Kristus.

Kalau dulu kita mudah marah, mari belajar sabar.

Kalau dulu kita sulit mengampuni, mari belajar melepaskan kepahitan.

Kalau dulu kita hanya memikirkan diri sendiri, mari belajar memperhatikan sesama.

Kalau dahulu kita rajin mendengar firman tetapi lambat laun melakukannya, mari mulai hidup dalam ketaatan.

Jangan hanya menjadi orang yang pandai berbicara tentang Tuhan. Jadilah orang yang melalui kehidupannya membuat orang lain melihat kasih, kebaikan, dan kebenaran Tuhan.

Dan kedamaian, saudara-saudara, kita tidak melakukan semuanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Kita membutuhkan Kristus setiap hari.

Seperti mengomel yang harus tinggal pada pokok anggur, demikianlah kita harus tinggal di dalam Kristus agar dapat menghasilkan buah yang memuliakan Allah.

Hari ini, mari kita mengambil keputusan di hadapan Tuhan:

“Tuhan, saya mau hidup bukan hanya untuk diri saya sendiri. Bentuklah hati saya. perbaruilah pikiran saya. Ajarlah saya mencintai seperti Kristus, mengampuni seperti Kristus, melayani dengan tulus, dan menghasilkan buah yang memuliakan nama-Mu.”

Sebab menampilkan rupa dan gambar Allah bukan hanya tentang siapa kita di hadapan manusia, tetapi tentang bagaimana kehidupan kita semakin mencerminkan Kristus di hadapan dunia.

Amin! Haleluya!

DOA PENUTUP

Bapa kami yang di surga, kami bersyukur atas firman-Mu yang telah kami dengarkan pada hari ini.

Terima kasih karena kami adalah buatan tangan-Mu dan karena kasih karunia-Mu kami menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Ampunilah kami, Tuhan, apabila selama ini kami lebih mementingkan diri sendiri, lebih mudah menghakimi daripada mencintai, lebih cepat marah daripada bersabar, dan lebih banyak mendengar firman daripada melakukannya.

Roh Kudus, tolonglah kami agar semakin mengenakan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Bentuklah hati kami, perbaruilah pikiran kami, dan mampukanlah kami menghasilkan buah yang baik.

Biarlah keluarga kami, gereja kami, pekerjaan kami, dan masyarakat di sekitar kami merasakan kasih-Mu melalui kehidupan kami.

Ajarlah kami untuk tetap tinggal di dalam Kristus, setia dalam proses pembentukan-Mu, dan melakukan pekerjaan baik yang telah Engkau persiapkan bagi kami.

Biarlah segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus Kristus.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan mengucap syukur.

Amin.

 

Enjoying this article?

Subscribe to get new posts delivered straight to your inbox. No spam, unsubscribe anytime.

No spam. Unsubscribe anytime.

Kabar Lainnya

Semua Info

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *